Senin, 12 September 2016

Makanan Buatan Mama

Assalaamu'alaykum!

Selamat hari raya 'Idul Adha 1437 Hijriyah

Taqabbalallaahu minnaa wa minkum. Semoga Allah menerima amal ibadah kita. :)

Tahun ini alhamdulillah lebaran haji di Klaten bersama keluarga suami. Gak se-rame 'Idul Fithri, tapi aku malah lebih suka seperti ini. Nasib jadi introvert, yang ketemu orang tuh butuh energi besar ^^'


Sabtu, 03 September 2016

Renungan Tentang Usia dan Produktivitas

Usia produktivitas

Assalaamu'alaykum, sahabat.

Apa kabar? Semoga kalian selalu dalam lindungan Allah. Aamiin.

Dua puluh dua tahun, usia yang masih sangat muda. Kata orang, perjalanan masih panjang. Tapi kita gak pernah tau, kapan ajal menjemput. Bahkan bayi yang baru beberapa hari lahir ke dunia, bisa saja dipanggil kembali oleh Allah. Kematian memang tak mengenal usia.

Kamis, 01 September 2016

Gagal Paham dengan Diri Sendiri

Collaborative Blogging pekan ini temanya Gagal Paham.

Ehm....pekan lalu deng.
Pekan ini udah keluar tema baru dan aku baru selesai edit-edit postingan untuk pekan lalu @#$%^&!*

Foto dok pri, edited by me


I'm not so good in giving advices, so I'll just talk about myself.
Post ini akan penuh curhat. Silakan close tab kalau tidak berkenan membacanya :)

Tapi sebelum close tab, klik dulu link ini, ini dan ini. In syaa Allah bermanfaat dan gak bikin sakit mata. ^^

Nah, bacanya sampai sini aja. See you on the next post!




Minggu, 21 Agustus 2016

Bukannya Aku Tidak Cinta, Tapi...

Empat hari yang lalu adalah peringatan 71 tahun kemerdekaanmu.
Berbagai daerah merayakannya dengan suka cita.
Euforianya masih terasa hingga saat ini.

Kamu ingat?
Dulu para pahlawan dengan gigihnya mempertaruhkan nyawa demi kemerdekaanmu.
Melepaskan rakyat-rakyatmu dari belenggu penjajah yang keji.
Begitu besar kecintaan mereka padamu.

Aku bersyukur dilahirkan di tanahmu.
Tanah yang subur, kekayaan alam yang melimpah, serta rasa aman yang merasuki jiwa selama 22 tahun kehidupanku.

Bendera Indonesia Berkibar
Sumber: stocksnap.io



Tahukah kamu?

Kamis, 30 Juni 2016

The Way He Love Me


Oktober lalu, aku dan Mas Bojo pulang ke Klaten, mengantar bapak mertuaku ke rumah. Sepertinya Beliau rindu dengan istrinya. Makan gak ketelen, katanya. Ibu gak bisa ikut ke Jakarta karena mabuk kendaraan, jadi hanya bapak yang mengunjungi kami.

Di suatu siang, Mas Bojo menghampiri aku setelah mengobrol cukup lama dengan his long lost(?) cousin dan temannya.
"Aku mau ke pantai sama Mas Met dan Mas Yo ya, Sayang."
"Aku mau ke pantai juga...", ucapku merajuk.
"Gak bisa, Sayang. Yang pergi laki-laki semua. Nanti aja ikutnya kalau mereka sudah punya istri juga."

Rabu, 16 Maret 2016

Lika-liku Perjalanan Hidupku

Bismillah.


Saya Annisa Nurjannah. Lahir di Bekasi 21 tahun silam dengan berat 4,1 kg. Kata Mama, baru brojol udah kayak bayi usia 3 bulan. Hihi.

Kelahiran saya di duga-duga memicu diabetes bagi Mama. Bagi saya juga. Kelihatan dari fisik saya yang ketika terluka atau digigit nyamuk, berbekas menghitam. Bintik-bintik. Kata orang darah saya manis. Saya sih belum pernah cek gula darah. Semoga bisa sehat terus. :)

Jumat, 19 Februari 2016

Silly Tears

Sumber foto: aqiqahsurabaya.com
Bismillah.

Kalian pernah gak sih, menangisi sesuatu yang menurut kalian "sepele"? Saya baru saja melakukannya kemarin :D

Kemarin siang ada yang ngantar makanan aqiqah ke rumah kami. Seneng banget dong, secara kami jarang menyantap olahan daging merah. Harganya sedang tinggi-tingginya lho!

Karena suami belum pulang kerja, saya simpan dulu makanannya di kulkas, beserta kotaknya, berharap saat dia pulang belum basi. Soalnya biasanya nasi kotak gini cepat basi.

Kamis, 28 Januari 2016

Cerita Alpukat


Saya suka sekali mengudap alpukat. Bikinnya pun simpel aja:
Alpukat dikeruk, dipotong-potong sesuka hati dengan sendok, siram pakai susu kental manis atau madu lalu diaduk rata. Jadi deh, kudapan penunda lapar. ^^

Kudapan ini biasanya kami (saya dan suami) santap pagi hari sebelum makan nasi maupun ketika suami baru pulang kerja. Makannya cukup semangkuk berdua, biar romantis gitu. Hihi...
Bukan sih, biar cucian piringnya gak banyak *pisss

Rabu, 27 Januari 2016

20 Bookish Facts About Me

Bismillah.

Baca buku bukanlah hobi saya. Tapi sejak kecil, saya suka baca. Baca apa aja; tulisan di bungkus permen, artikel di koran pembungkus nasi uduk, sampe tulisan di baju orang juga dipantengin. Saya baca apa aja yang ingin saya baca, tak terbatas pada buku.

Di rumah orangtua saya ada banyak buku, mulai dari komik sampai buku agama. Apa yang menarik perhatian, saya baca. Majalah, novel remaja punya kakak, novel detektif, komik, apapun.

Sabtu, 09 Januari 2016

My Better Half: Kaulah Penyempurnaku

Front Cover



Judul Buku: My Better Half
Penulis: Indah Hanaco
Editor: Afrianty P. Pardede
Penerbit: PT. Elex Media Komputindo
Cetakan Pertama: Tahun 2014
Jumlah Halaman: 295
ISBN: 978-602-02-5344-2


Blurb:

“Dia memang bukan pelaku kriminal. Dia hanya seorang laki-laki menyebalkan yang tidak tahu caranya tersenyum. Bodohnya, aku selalu kesulitan untuk benar-benar marah padanya.” (Kendra Elanith)

“Dan dia adalah gadis paling ceroboh yang selalu meninggalkan ponselnya di sembarang tempat. Tapi dia selalu mampu menghadapiku lebih baik dibanding orang lain.” (Maxim Fordel Arsjad)

Mereka lebih sering saling membantah, sekaligus membangun pengertian. Kendra dan Maxim saling memahami meski tak fasih menuangkannya dalam kata. Keduanya mengelak dari hubungan yang lebih dari sekadar teman. Tapi Tuhan adalah sutradara Maha gemilang. Dia menuliskan predestinasi yang tak bisa dibantah. Menyandera Maxim dan Kendra pada perasaan istimewa.

Mungkinkah mereka memilih jalan untuk bersama, menghabiskan sisa kefanaan berdua? Ataukah lebih suka menjauh meski saling menyakiti? Ada banyak perasaan terluka, ada banyak rasa ngilu yang harus dikecap. Jalan ke masa depan memang bukan jalan yang bebas hambatan.


Minggu, 13 Desember 2015

Eternal Love - Chapter 6 (END)

Ellone's POV

Mereka memegangi aku dan Seifer. Kami benar-benar tidak berdaya, mereka terlalu kuat. Seifer juga tidak sanggup melepaskan diri dari orang yang memeganginya. Sepertinya tubuhnya masih lemah akibat kurang nutrisi selama seminggu ini. Tapi kami masih terus meronta-ronta dengan kekuatan seadanya.
"Lepaskan!" kata Seifer dengan nada membentak. Ia makin memberontak.
"Diam kau!" kata orang yang memegangi Seifer. Ia tiba-tiba mengangkat tangannya dan dengan cepat tangan itu memukul belakang kepala Seifer hingga ia pingsan.
"Seifeeeeeeeeer!" teriakku. Orang yang memegangiku menutup mulut dan hidungku dengan sapu tangan hingga aku melemas dan tak sadarkan diri.

~~~

Kubuka mataku, namun gelap. Kucoba berteriak minta tolong, tapi suaraku terpendam. Aku meronta-ronta. Ternyata tangan dan kakiku diikat, mata dan mulutku ditutupi kain.
"Ngggghh...." kudengar suara Seifer. Kucoba memanggilnya, tapi dia tidak menyahut. Sepertinya dia baru setengah sadar.
"Mereka sadar! Cepat bius lagi!" kata seseorang. Aku kembali menghirup bau obat bius itu dan tak sadarkan diri.

~~~

"Selesai juga!" Kudengar suara wanita. Suara itu dekat sekali denganku. Saat kubuka mataku, yang terlihat hanya hitam kelam.
"Kau sudah bangun ya? Jangan lakukan hal yang macam-macam ya, atau pisau ini akan melukaimu!" kata wanita itu lagi.
"Aaaaaah!" Dinginnya pisau terasa di leherku. Aku gemetar ketakutan.
"Jangan sakiti Ellone!" kata Seifer. Sepertinya dia berada tak terlalu jauh dariku.
"Diam!" terdengar suara laki-laki membentak Seifer.
"Kalian berdua sudah bangun rupanya..." suara Duke mengagetkanku.
"Mau apa kau?! Belum puas mengganggu kami?!" kata Seifer.
"Tenanglah... Aku hanya menginginkan Ellone. Biarkan dia menikah denganku, dan hidupmu akan kembali tenang. Hahaha!" Kata-kata Duke membuatku makin gemetar. Aku tak ingin menikah dengannya.
"Bangunlah, Elle, ayo kita keluar!" Duke menarik tanganku. Aku berdiri dengan pasrah. Aku masih gemetar. Lalu dia menggandeng tanganku, menuntunku keluar, karena entah kenapa penutup mataku tak kunjung dibuka.

~~~

Aroma Bunga Lily tercium saat aku sampai diluar. Dia masih menuntunku.
"Pada hari ini, disini akan dilangsungkan pernikahan. Tapi sebelum itu aku ingin bercerita tentang wanita ini. Ellone. Dia adalah seorang gadis yang cantik dan baik hati. Aku jatuh cinta padanya sejak pertama kali kami bertemu di Deling City. Senyumnya yang manis dan perkataannya yang begitu lembut membuatku tak pernah bosan berada disisinya. Dia adalah wanita spesial kedua setelah ibuku. Aku sangat berharap bisa menjalani sisa hidupku bersamanya." Jelasnya panjang lebar pada para tamu. Dia menuntunku lagi.
"Sekarang kami telah tiba di depan pelaminan. Tiba saatnya untuk memulai acara ini." Ia melepas gandengan tangannya, memegang pundakku lalu berbisik padaku.
"Bersiaplah, Ellone." Bisiknya. Ia mengarahkan tubuhku ke arah yang lain. Terdengar suara agak berisik, seperti ada orang yang dipaksa kemari.
"Nggggghh!" orang itu menggeram. Suaranya tidak terdengar terlalu jelas karena tiba-tiba ada alunan piano Eyes On Me.
"Dalam hitungan ketiga, buka penutup mata dan mulutnya! Satu...Dua...Tiga!"
SREK!
Penutup mataku dibuka. Aku tak percaya dengan yang aku lihat. Dihadapanku, ada sesosok pria yang sangat kucintai.
"Seifer...?" Ucapku. Seifer terbelalak. Mulutnya setengah terbuka.
"Apa maksudnya ini?" Tanya Seifer.
"Masa' begitu saja tidak mengerti! Dia mempelaimu!" Kata Duke yang ada di belakangku. Sepertinya dia yang melepaskan penutup mataku.
"HAH?!" Kini mulut Seifer terbuka lebar. Aku tertunduk.
"Ellone... Aku benar-benar ingin bersamamu, tapi saat kulihat betapa kau mencintai Seifer, betapa kau ingin melihatnya hidup bahagia walaupun kau tau hidupmu mungkin takkan pernah bahagia. Aku mulai mengerti arti dari cinta itu sendiri saat aku dengar kata-katamu waktu itu. Aku tersentuh. Akhirnya aku memutuskan untuk memberi kejutan pada kalian. Mungkin terlalu kasar ya, hahaha!" Kata Duke.
"Jadi...?" kataku. Aku menatap Seifer yang saat itu masih terlihat bingung.
"Ini adalah pernikahan kalian, Ellone, Seifer! Dan ini cincin kalian!" Kata Duke. Aku benar-benar kaget mendengarnya. Sebuah kejutan yang begitu menyenangkan walaupun menegangkan di awal.
"Cincin ini kan...?" Aku memperhatikan kedua cincin itu. Aku mengenali cincin itu.
"Itu buatanku, kak! Waktu itu Seifer memintaku untuk membuatkan dua pasang cincin yang sama." Zell muncul dari kerumunan tamu.
"Bagaimana? Bisa dimulai sekarang?" Tanya Duke padaku dan Seifer.
"Tentu saja!" Ucap Seifer senang.

~~~

Pernikahan kami berjalan dengan lancar dan tanpa keributan. Aku sangat lega karena akhirnya mimpiku bisa jadi kenyataan. Seifer juga kelihatan sangat senang. Usai upacara pernikahan, ia memelukku erat sekali.
"Kau cantik sekali dengan gaun ini." kata Seifer.
"Terima kasih. Kau juga sangat tampan dengan tuxedo itu. Lebih tampan dari Tonberry." ucapku sambil tersenyum.
"Kenapa baru sadar sekarang kalau aku lebih tampan daripada Tonberry? Hahaha!" Tawa khasnya yang selalu kurindukan akhirnya muncul. Aku tertawa kecil mendengar ucapannya.
"Siapa yang menggantikan baju kita?" Kata Seifer.
"Anak buahku yang menggantikannya. Wanita ini menggantikan baju Ellone, dan pria yang disana itu menggantikan bajumu. Apa kalian suka?" Kata Duke tiba-tiba.
"Tentu saja, Duke, kami sangat menyukainya."
"Aku berhutang padamu." kata Seifer.
"Bahagiakan Ellone. Itu sudah cukup untuk membayar hutangmu."
"Ya, aku akan membahagiakannya." ucap Seifer. Ia menggenggam tanganku.
"Baiklah, nampaknya sudah waktunya bagiku untuk pergi. Sampai jumpa! Baju itu untuk kalian!" kata Duke sambil melangkah pergi.
"Akhirnya kalian bisa bersatu. Aku sangat senang!" Kata Paman Laguna begitu para tamu pergi.
"Ya, kami sangat bahagia, Paman!" Kata Seifer.
"Selamat ya, kakak. Selamat, Seifer." Squall mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan kami. Senyum tipis  terlihat di wajahnya. Di sebelahnya ada Rinoa yang sedang menggandeng tangan Squall yang satunya lagi.
"Terima kasih, Squall." Ucap kami bersamaan. Kami menjabat tangan Squall. Rinoa mendo'akan kami agar pernikahan kami langgeng.
"Squall... Kapan kita menyusul?" Tanya Rinoa tiba-tiba.
"I...itu...mungkin takkan lama lagi." Squall terlihat gugup. Rona merah nampak di wajahnya.
"Tapi ka..." sebelum Rinoa menyelesaikan kalimatnya, Squall berlutut di hadapan Rinoa, lalu memasangkan cincin di jari Rinoa.
"Maukah kau menikah denganku?" Kata Squall dengan penuh keyakinan. Rinoa yang terkejut hanya bisa terpaku menatap Squall. Kami semua tertawa melihat ekspresi Squall yang perlahan menjadi keruh karena Rinoa tak kunjung menjawab pertanyaannya.

COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES