Kamis, 30 Juni 2016

The Way He Love Me


Oktober lalu, aku dan Mas Bojo pulang ke Klaten, mengantar bapak mertuaku ke rumah. Sepertinya Beliau rindu dengan istrinya. Makan gak ketelen, katanya. Ibu gak bisa ikut ke Jakarta karena mabuk kendaraan, jadi hanya bapak yang mengunjungi kami.

Di suatu siang, Mas Bojo menghampiri aku setelah mengobrol cukup lama dengan his long lost(?) cousin dan temannya.
"Aku mau ke pantai sama Mas Met dan Mas Yo ya, Sayang."
"Aku mau ke pantai juga...", ucapku merajuk.
"Gak bisa, Sayang. Yang pergi laki-laki semua. Nanti aja ikutnya kalau mereka sudah punya istri juga."

Rabu, 16 Maret 2016

Lika-liku Perjalanan Hidupku

Bismillah.


Saya Annisa Nurjannah. Lahir di Bekasi 21 tahun silam dengan berat 4,1 kg. Kata Mama, baru brojol udah kayak bayi usia 3 bulan. Hihi.

Kelahiran saya di duga-duga memicu diabetes bagi Mama. Bagi saya juga. Kelihatan dari fisik saya yang ketika terluka atau digigit nyamuk, berbekas menghitam. Bintik-bintik. Kata orang darah saya manis. Saya sih belum pernah cek gula darah. Semoga bisa sehat terus. :)

Jumat, 19 Februari 2016

Silly Tears

Sumber foto: aqiqahsurabaya.com
Bismillah.

Kalian pernah gak sih, menangisi sesuatu yang menurut kalian "sepele"? Saya baru saja melakukannya kemarin :D

Kemarin siang ada yang ngantar makanan aqiqah ke rumah kami. Seneng banget dong, secara kami jarang menyantap olahan daging merah. Harganya sedang tinggi-tingginya lho!

Karena suami belum pulang kerja, saya simpan dulu makanannya di kulkas, beserta kotaknya, berharap saat dia pulang belum basi. Soalnya biasanya nasi kotak gini cepat basi.

Kamis, 28 Januari 2016

Cerita Alpukat


Saya suka sekali mengudap alpukat. Bikinnya pun simpel aja:
Alpukat dikeruk, dipotong-potong sesuka hati dengan sendok, siram pakai susu kental manis atau madu lalu diaduk rata. Jadi deh, kudapan penunda lapar. ^^

Kudapan ini biasanya kami (saya dan suami) santap pagi hari sebelum makan nasi maupun ketika suami baru pulang kerja. Makannya cukup semangkuk berdua, biar romantis gitu. Hihi...
Bukan sih, biar cucian piringnya gak banyak *pisss

Rabu, 27 Januari 2016

20 Bookish Facts About Me

Bismillah.

Baca buku bukanlah hobi saya. Tapi sejak kecil, saya suka baca. Baca apa aja; tulisan di bungkus permen, artikel di koran pembungkus nasi uduk, sampe tulisan di baju orang juga dipantengin. Saya baca apa aja yang ingin saya baca, tak terbatas pada buku.

Di rumah orangtua saya ada banyak buku, mulai dari komik sampai buku agama. Apa yang menarik perhatian, saya baca. Majalah, novel remaja punya kakak, novel detektif, komik, apapun.

Sabtu, 09 Januari 2016

My Better Half: Kaulah Penyempurnaku

Front Cover



Judul Buku: My Better Half
Penulis: Indah Hanaco
Editor: Afrianty P. Pardede
Penerbit: PT. Elex Media Komputindo
Cetakan Pertama: Tahun 2014
Jumlah Halaman: 295
ISBN: 978-602-02-5344-2


Blurb:

“Dia memang bukan pelaku kriminal. Dia hanya seorang laki-laki menyebalkan yang tidak tahu caranya tersenyum. Bodohnya, aku selalu kesulitan untuk benar-benar marah padanya.” (Kendra Elanith)

“Dan dia adalah gadis paling ceroboh yang selalu meninggalkan ponselnya di sembarang tempat. Tapi dia selalu mampu menghadapiku lebih baik dibanding orang lain.” (Maxim Fordel Arsjad)

Mereka lebih sering saling membantah, sekaligus membangun pengertian. Kendra dan Maxim saling memahami meski tak fasih menuangkannya dalam kata. Keduanya mengelak dari hubungan yang lebih dari sekadar teman. Tapi Tuhan adalah sutradara Maha gemilang. Dia menuliskan predestinasi yang tak bisa dibantah. Menyandera Maxim dan Kendra pada perasaan istimewa.

Mungkinkah mereka memilih jalan untuk bersama, menghabiskan sisa kefanaan berdua? Ataukah lebih suka menjauh meski saling menyakiti? Ada banyak perasaan terluka, ada banyak rasa ngilu yang harus dikecap. Jalan ke masa depan memang bukan jalan yang bebas hambatan.


Minggu, 13 Desember 2015

Eternal Love - Chapter 6 (END)

Ellone's POV

Mereka memegangi aku dan Seifer. Kami benar-benar tidak berdaya, mereka terlalu kuat. Seifer juga tidak sanggup melepaskan diri dari orang yang memeganginya. Sepertinya tubuhnya masih lemah akibat kurang nutrisi selama seminggu ini. Tapi kami masih terus meronta-ronta dengan kekuatan seadanya.
"Lepaskan!" kata Seifer dengan nada membentak. Ia makin memberontak.
"Diam kau!" kata orang yang memegangi Seifer. Ia tiba-tiba mengangkat tangannya dan dengan cepat tangan itu memukul belakang kepala Seifer hingga ia pingsan.
"Seifeeeeeeeeer!" teriakku. Orang yang memegangiku menutup mulut dan hidungku dengan sapu tangan hingga aku melemas dan tak sadarkan diri.

~~~

Kubuka mataku, namun gelap. Kucoba berteriak minta tolong, tapi suaraku terpendam. Aku meronta-ronta. Ternyata tangan dan kakiku diikat, mata dan mulutku ditutupi kain.
"Ngggghh...." kudengar suara Seifer. Kucoba memanggilnya, tapi dia tidak menyahut. Sepertinya dia baru setengah sadar.
"Mereka sadar! Cepat bius lagi!" kata seseorang. Aku kembali menghirup bau obat bius itu dan tak sadarkan diri.

~~~

"Selesai juga!" Kudengar suara wanita. Suara itu dekat sekali denganku. Saat kubuka mataku, yang terlihat hanya hitam kelam.
"Kau sudah bangun ya? Jangan lakukan hal yang macam-macam ya, atau pisau ini akan melukaimu!" kata wanita itu lagi.
"Aaaaaah!" Dinginnya pisau terasa di leherku. Aku gemetar ketakutan.
"Jangan sakiti Ellone!" kata Seifer. Sepertinya dia berada tak terlalu jauh dariku.
"Diam!" terdengar suara laki-laki membentak Seifer.
"Kalian berdua sudah bangun rupanya..." suara Duke mengagetkanku.
"Mau apa kau?! Belum puas mengganggu kami?!" kata Seifer.
"Tenanglah... Aku hanya menginginkan Ellone. Biarkan dia menikah denganku, dan hidupmu akan kembali tenang. Hahaha!" Kata-kata Duke membuatku makin gemetar. Aku tak ingin menikah dengannya.
"Bangunlah, Elle, ayo kita keluar!" Duke menarik tanganku. Aku berdiri dengan pasrah. Aku masih gemetar. Lalu dia menggandeng tanganku, menuntunku keluar, karena entah kenapa penutup mataku tak kunjung dibuka.

~~~

Aroma Bunga Lily tercium saat aku sampai diluar. Dia masih menuntunku.
"Pada hari ini, disini akan dilangsungkan pernikahan. Tapi sebelum itu aku ingin bercerita tentang wanita ini. Ellone. Dia adalah seorang gadis yang cantik dan baik hati. Aku jatuh cinta padanya sejak pertama kali kami bertemu di Deling City. Senyumnya yang manis dan perkataannya yang begitu lembut membuatku tak pernah bosan berada disisinya. Dia adalah wanita spesial kedua setelah ibuku. Aku sangat berharap bisa menjalani sisa hidupku bersamanya." Jelasnya panjang lebar pada para tamu. Dia menuntunku lagi.
"Sekarang kami telah tiba di depan pelaminan. Tiba saatnya untuk memulai acara ini." Ia melepas gandengan tangannya, memegang pundakku lalu berbisik padaku.
"Bersiaplah, Ellone." Bisiknya. Ia mengarahkan tubuhku ke arah yang lain. Terdengar suara agak berisik, seperti ada orang yang dipaksa kemari.
"Nggggghh!" orang itu menggeram. Suaranya tidak terdengar terlalu jelas karena tiba-tiba ada alunan piano Eyes On Me.
"Dalam hitungan ketiga, buka penutup mata dan mulutnya! Satu...Dua...Tiga!"
SREK!
Penutup mataku dibuka. Aku tak percaya dengan yang aku lihat. Dihadapanku, ada sesosok pria yang sangat kucintai.
"Seifer...?" Ucapku. Seifer terbelalak. Mulutnya setengah terbuka.
"Apa maksudnya ini?" Tanya Seifer.
"Masa' begitu saja tidak mengerti! Dia mempelaimu!" Kata Duke yang ada di belakangku. Sepertinya dia yang melepaskan penutup mataku.
"HAH?!" Kini mulut Seifer terbuka lebar. Aku tertunduk.
"Ellone... Aku benar-benar ingin bersamamu, tapi saat kulihat betapa kau mencintai Seifer, betapa kau ingin melihatnya hidup bahagia walaupun kau tau hidupmu mungkin takkan pernah bahagia. Aku mulai mengerti arti dari cinta itu sendiri saat aku dengar kata-katamu waktu itu. Aku tersentuh. Akhirnya aku memutuskan untuk memberi kejutan pada kalian. Mungkin terlalu kasar ya, hahaha!" Kata Duke.
"Jadi...?" kataku. Aku menatap Seifer yang saat itu masih terlihat bingung.
"Ini adalah pernikahan kalian, Ellone, Seifer! Dan ini cincin kalian!" Kata Duke. Aku benar-benar kaget mendengarnya. Sebuah kejutan yang begitu menyenangkan walaupun menegangkan di awal.
"Cincin ini kan...?" Aku memperhatikan kedua cincin itu. Aku mengenali cincin itu.
"Itu buatanku, kak! Waktu itu Seifer memintaku untuk membuatkan dua pasang cincin yang sama." Zell muncul dari kerumunan tamu.
"Bagaimana? Bisa dimulai sekarang?" Tanya Duke padaku dan Seifer.
"Tentu saja!" Ucap Seifer senang.

~~~

Pernikahan kami berjalan dengan lancar dan tanpa keributan. Aku sangat lega karena akhirnya mimpiku bisa jadi kenyataan. Seifer juga kelihatan sangat senang. Usai upacara pernikahan, ia memelukku erat sekali.
"Kau cantik sekali dengan gaun ini." kata Seifer.
"Terima kasih. Kau juga sangat tampan dengan tuxedo itu. Lebih tampan dari Tonberry." ucapku sambil tersenyum.
"Kenapa baru sadar sekarang kalau aku lebih tampan daripada Tonberry? Hahaha!" Tawa khasnya yang selalu kurindukan akhirnya muncul. Aku tertawa kecil mendengar ucapannya.
"Siapa yang menggantikan baju kita?" Kata Seifer.
"Anak buahku yang menggantikannya. Wanita ini menggantikan baju Ellone, dan pria yang disana itu menggantikan bajumu. Apa kalian suka?" Kata Duke tiba-tiba.
"Tentu saja, Duke, kami sangat menyukainya."
"Aku berhutang padamu." kata Seifer.
"Bahagiakan Ellone. Itu sudah cukup untuk membayar hutangmu."
"Ya, aku akan membahagiakannya." ucap Seifer. Ia menggenggam tanganku.
"Baiklah, nampaknya sudah waktunya bagiku untuk pergi. Sampai jumpa! Baju itu untuk kalian!" kata Duke sambil melangkah pergi.
"Akhirnya kalian bisa bersatu. Aku sangat senang!" Kata Paman Laguna begitu para tamu pergi.
"Ya, kami sangat bahagia, Paman!" Kata Seifer.
"Selamat ya, kakak. Selamat, Seifer." Squall mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan kami. Senyum tipis  terlihat di wajahnya. Di sebelahnya ada Rinoa yang sedang menggandeng tangan Squall yang satunya lagi.
"Terima kasih, Squall." Ucap kami bersamaan. Kami menjabat tangan Squall. Rinoa mendo'akan kami agar pernikahan kami langgeng.
"Squall... Kapan kita menyusul?" Tanya Rinoa tiba-tiba.
"I...itu...mungkin takkan lama lagi." Squall terlihat gugup. Rona merah nampak di wajahnya.
"Tapi ka..." sebelum Rinoa menyelesaikan kalimatnya, Squall berlutut di hadapan Rinoa, lalu memasangkan cincin di jari Rinoa.
"Maukah kau menikah denganku?" Kata Squall dengan penuh keyakinan. Rinoa yang terkejut hanya bisa terpaku menatap Squall. Kami semua tertawa melihat ekspresi Squall yang perlahan menjadi keruh karena Rinoa tak kunjung menjawab pertanyaannya.

Sabtu, 12 Desember 2015

Eternal Love - Chapter 5

(Masih) Seifer's POV

"Ini..." Kuambil benda itu. Senyumku mengembang saat aku yakin benda apa itu.
"Ternyata kau pandai mengelabuiku ya, Ellone. Aku hampir putus asa, tapi ternyata masih ada harapan. Sekarang tinggal mencari bukti tertulis di buku ini." Ucapku. Aku benar-benar bahagia saat itu. Kubuka dan kubaca beberapa lembar dari buku diary itu.

[Senin, 13 Februari 2012]

Hari ini dia mengajakku bertemu. Dia bilang, ada kejutan untukku. Ternyata memang ada kejutan. Dia rela mendayung perahu jauh-jauh hanya untuk mengajakku naik perahu seperti keinginanku. Aku sangat senang! Setibanya di tempat tujuan kami yaitu kota Balamb, ia mengajakku ke rumah Zell. Ia meminta Zell untuk membuatkan sepasang cincin. Dia bilang, itu untuk pernikahan kami nantinya. Ah, aku sudah tidak sabar menantinya >//<
Setelah dari rumah Zell, ia mengajakku makan di restoran. Kami mengobrol dengan asyiknya sampai-sampai kami tidak sadar kalau matahari sudah hampir terbenam. Ia lalu mengajakku ke tepi dermaga. Matahari terbenam itu terlihat jelas, indah sekali. Seifer mengatakan hal-hal yang membuatku begitu bahagia sekaligus sedih. Ternyata selama ini aku begitu jahat padanya, selalu menganggap semua yang dilakukannya itu adalah kesalahan. Maafkan aku, Seifer....
Kami berpelukan. Air mata bahagia mengalir deras dari mataku. Senyumku mengembang, tapi segera sirna setelah seseorang menarik tanganku. Ia adalah suruhan Duke. Duke ingin membawaku pergi, tapi Seifer berusaha mencegahnya. Bahkan saat Duke mendekat padaku, Seifer berlari ke arah Duke, menahan Duke dengan tangan kirinya yang sedang memegang pisau sambil mengarahkan pisau itu ke leher Duke. Lalu sebuah kejadian fatal terjadi. Seifer yang sebenarnya tidak berniat melukai Duke, malah dituduh melukai Duke hingga mengalir darah yang cukup banyak dari leher Duke. Akhirnya Duke dilarikan ke rumah sakit sedangkan Seifer dibawa ke kantor polisi.  Ia ditahan karena kasus itu. Kini Seifer terlihat sangat frustasi. Aku tak tega melihatnya. Aku sangat ingin membantunya agar dia bebas, karena aku tau bahwa bukan dia pelakunya.

[Selasa, 14 Februari 2012]

Aku datang ke kantor polisi tempat Seifer ditahan. Aku membawakan makanan kesukaannya, Telur Mata Sapi, serta dessert favoritnya, Cherry Pie. Dia melahap makanan yang kubawa dengan sangat cepat, seperti orang kelaparan. Tak lupa juga kubawakan Teh Hijau untuknya. Dia sangat menyukainya..^^
[Kamis,  16 Februari 2012]
Aku benar-benar bingung. Sekalipun selama tiga hari ini dia terlihat seperti orang yang tak punya beban apapun, tapi aku tetap mengkhawatirkannya. Akhirnya hari ini kuputuskan untuk menemui Duke dan memohon padanya untuk mencabut tuntutannya. Dia bersedia, tapi dia memberi syarat, syarat yang sangat berat untukku.

[Senin, 21 Februari 2012]

Hari ini dia bebas. Aku sangat senang mendengar kabar itu. Saat itu aku sangat ingin menemuinya dengan senyum lebar di wajahku, tapi keinginan itu tak bisa terwujud. Aku berkata kasar padanya, dan memberitahu hal yang menyakitkan baginya...tentunya bagiku juga. Aku terpaksa lakukan itu, karena aku tak mau melihat dia dihukum dengan hukuman berat atas perbuatan yang tak pernah dia lakukan. Aku sangat ingin bersatu dengannya, tapi aku memilih untuk menyelamatkannya. Aku akan lakukan apapun asalkan dia bisa tetap hidup dengan baik. Yang pasti, hingga detik ini, cintaku padanya masih sama. Maafkan aku, Seifer.

[Selasa, 28 Februari 2012]

Setelah petang ini, segala harapanku tentangnya akan sirna. Saat terbangun dari tidurku tadi pagi, aku tak henti-hentinya meneteskan air mata, berharap semua ini tak pernah terjadi, berharap aku dan Seifer bisa bahagia bersama. Aku berharap dia datang lalu membawaku pergi untuk mewujudkan segala harapan yang kami bangun sejak dulu. I strongly hope. YOU ARE MY ONLY HOPE.

"Bodoh sekali kau, Ellone..." Butiran air perlahan membasahi pipiku. Ini pertama kalinya sejak lima belas tahun yang lalu. Kuseka air mataku lalu kutatap arlojiku.
"Sial!! Aku harus segera kesana, tapi aku tak tau dimana acaranya diadakan!" Kubanting buku diary ber-hard cover itu. Sebuah foto keluar dari buku itu.
"Ini kan...? Itu dia! Tunggulah, Elle, aku akan segera tiba disana!" Aku menyobek dua lembar kertas dari buku diary Ellone dan mengambil benda mengejutkan yang kutemukan di dalam buku diary itu.

~~~

Pukul enam kurang tiga menit. Aku segera menerobos masuk ke Hall itu, mencari-cari tempat pernikahan Ellone. Aku tak peduli, apa atau siapapun yang aku tabrak, yang terpenting, aku bisa membawa Ellone pergi dari sini. Sampailah aku di depan ruang pernikahan Ellone. Aku hendak masuk, tapi ditahan oleh dua orang penjaga pintu.
"Biarkan aku masuk! Ellone! Ellone!" Aku berusaha melepaskan diri dari mereka, tapi mereka terlalu kuat.
"Ellone! Hentikan!" Teriakku. Aku berhasil melepaskan diri dari mereka. Aku langsung berlari ke dalam, mencari Ellone, lalu menarik tangannya.
"Kau mau apa, Seifer?" Tanya Ellone. Dia menahan tarikan tanganku.
"Ayo pergi bersamaku! Ayo kita wujudkan mimpi yang selama ini kita bangun bersama!" Jawabku, masih sambil memegangi tangan Ellone.
"Jangan harap kau bisa bawa Ellone pergi!" Duke melepaskan peganganku dari tangan Ellone.
"Ayolah, Ellone. Kau mau ikut kan?" Bujukku.
"Aku takkan pergi denganmu." kata Ellone.
"Dengar kan? Pulanglah! Kehadiranmu tak diharapkan disini!" kata Duke menimpali. Kutarik tangan Ellone lagi.
"Kubilang tidak mau ya tidak mau!" Bentaknya sambil melepaskan cengkramanku.
"Kau ingat ini, Ellone?" kutunjukkan benda mengejutkan yang kutemukan di dalam diary Ellone, sebuah cincin berukirkan namanya, cincin yang hendak kupasangkan di jari manisnya waktu itu.
"Itu..." Ellone terkejut melihat cincin itu.
"Cincin ini kutemukan di dalam diary mu. Aku juga temukan beberapa tulisanmu di diary itu yang menunjukkan bahwa kau sebenarnya sangat tidak menginginkan pernikahan ini." Jelasku.
"Ti...tidak, itu tidak mungkin!" Ucap Ellone memungkiri.
"Baca dan resapi!" kataku sambil menunjukkan dua lembar kertas yang kusobek dari diary itu.
"..." Ellone hanya terpaku menatap lembaran-lembaran warna pink itu.
"Kau tau, Elle, pengorbananmu ini sia-sia dimataku. Aku tak butuh kebebasan jika itu membuatku kehilanganmu. Aku mencintaimu bukan untuk melihatmu bersama yang lain. Lebih baik aku tetap dipenjara daripada aku harus menyaksikan pernikahanmu dengan orang lain!"
"Cukup! Pergi kau, Seifer!" Ellone berteriak padaku, tapi matanya berkaca-kaca.
"Baiklah kalau itu maumu. Aku takkan muncul lagi di hadapanmu. Selamat tinggal, Elle." Kutinggalkan ruangan itu. Suasana hening. Duke mendengus kesal.

~~~

Ellone's POV

"Pengacau itu sudah pergi. Ayo kita lanjutkan acaranya!" kata Duke pada semua tamu, dan tentu saja padaku. Ia ambil cincin yang sejak tadi ada di depan kami.
"Tunggu dulu, Duke!" ucapku tiba-tiba.
"Ada apa, Elle?" tanyanya.
"Maaf, aku tak bisa menikah denganmu. Aku sangat mencintai Seifer. Aku ingin dia hidup bahagia. Jika pernikahanku membuatnya menderita, lebih baik aku akhiri saja."
"Kalau kau mengakhirinya, kau pasti tau akibatnya." Ancam Duke.
"Sekalipun kau menjerumuskan kami berdua ke penjara atau bahkan membunuh kami, aku tidak peduli! Yang terpenting, jangan pernah pisahkan kami lagi!" kataku sambil berlari keluar ruangan. Terdengar suara Duke memanggil-manggil namaku, namun aku tak menghiraukannya. Aku terus berlari mencari Seifer, berharap masih ada kesempatan bagiku untuk kembali padanya. Dari kejauhan, kulihat sosok Seifer sedang berjalan pelan keluar Deling City. Aku berlari menghampirinya, memeluknya dari belakang, erat sekali, seolah tak mau terpisahkan lagi.
"Seifer! Maafkan aku! Aku hanya tak ingin hidupmu menderita. Ternyata yang kulakukan ini jauh lebih menyakitkan bagimu. Maafkan aku..." Ucapku sambil menangis.
"..." Seifer hanya diam. Ia melepaskan pelukanku lalu berbalik.
"Aku janji, aku takkan menyakitimu lagi, Seifer!" tangisku makin menjadi-jadi saat kulihat tatapan matanya yang begitu dingin. Ia memelukku perlahan.
"Menangislah... Menangislah kalau memang itu bisa membuatmu lega." Kata Seifer sambil mengelus rambutku. Kubenamkan wajahku di dadanya hingga tangisku reda, lalu kuangkat kepalaku.
"Seifer... Apa kau memaafkanku?" tanyaku. Dia hanya mengangguk kecil. Ia lepaskan pelukannya. Aku baru sadar kalau tubuhnya jadi agak kurusan.
"Kenapa kau jadi kurus begini?"
"Itu karenamu. Sejak kau bilang kalau kau akan menikah dengan Duke, aku tak selera makan. Biasanya saat jam makan siang, aku bisa melahap tiga Burger jumbo atau seloyang Cherry Pie, tapi sejak hari itu, yang masuk ke perutku hanya dua keping biskuit dan secangkir kopi." Jelas Seifer.
"Kau hanya makan itu selama satu minggu? Kau bisa sakit, Seifer."
"Sakit fisik tak ada apa-apanya. Tapi disini rasanya sesak, dan aku tak bisa tidur karenanya." Ujarnya sambil menunjuk dadanya berkali-kali.
"Sejahat itukah aku? Aku tak pantas diberi maaf." Air mataku tumpah lagi, namun ia segera mengusap air mataku dengan kedua ibu jarinya.
"Aku tak ingin mengingatnya lagi. Toh kau juga sudah ada disini sekarang, bersamaku. Tersenyumlah, Elle." Ucapnya. Senyumnya merekah. Aku ikut tersenyum saat melihatnya tersenyum.
Perasaan tidak enak itu muncul lagi. Sepertinya kami akan kembali dihadapkan pada kenyataan pahit, saat ada dua orang mencurigakan menghampiri kami.

Jumat, 11 Desember 2015

Eternal Love - chapter 4


Seifer's POV
Empat hari kemudian, aku dibebaskan. Duke telah mencabut tuntutannya padaku. Sampai sekarang aku masih heran, kenapa dia melukai dirinya sendiri, dan kenapa dia membebaskanku sekarang. Tapi untuk saat ini, aku tak mau memikirkannya. Aku akan mengunjungi Ellone di Balamb Garden setelah kuselesaikan urusanku.
"Cincinnya sudah jadi?" tanyaku pada Zell begitu aku tiba dirumahnya.
"Tentu saja! Harganya Sepuluh Ribu Gill."
"KAU MAU CARI MATI YA?! MANA ADA CINCIN PERAK SEMAHAL ITU!!" teriak Seifer.
"KAU PIKIR MUDAH MEMBUATNYA! AKU SAMPAI HARUS BEGADANG UNTUK MENYELESAIKANNYA TEPAT WAKTU!" teriak Zell tak mau kalah.
"Oke.. Bagaimana kalau setengah harga? Gajiku hanya Sepuluh Ribu. Kalau harganya segitu, aku bisa bangkrut."
"Baiklah, tapi jangan pernah kau panggil aku Chicken-wuss lagi!"
"Oke.. Okee.. Deal!"
"Deal!"
~~~
Siang ini aku mengajak Ellone ke Quad. Aku ingin beri kejutan padanya.
"Ellone!"
"..." Ia melangkah mendekatiku. Tak ada senyum, tak ada keceriaan. Hanya wajah datar, seolah tak menginginkan kehadiranku.
"Aku  bebas, Ellone!" Kupeluk dirinya, erat. Sudah dua hari aku tak bertemu dengannya, rasanya rindu sekali.
"Lepaskan aku." ucapnya pelan.
"Apa maksudmu?" tanyaku.
"Kubilang lepaskan aku!" Ellone menaikkan nada bicaranya sambil memberontak, berusaha melepaskan diri dari pelukanku. Tak pernah kulihat dia bersikap seperti ini sebelumnya.
"Baiklah. Hmm... Ellone... Maukah kau...menikah denganku?" kukeluarkan cincin itu dari kantung celanaku.
"Tidak." tolaknya.
"Kenapa? Bukankah dulu kau sudah berjanji kalau kau akan selalu berada disisiku?"
"Dulu dan sekarang itu berbeda! Aku tak mau bersama dengan laki-laki kasar sepertimu!"
"Tapi, Elle..."
"Kau tau, sebentar lagi aku akan menikah, dengan Duke." Aku syok mendengar ucapannya, hingga tak sadar aku menjatuhkan cincin yang kupegang.
"Kau bercanda kan?"
"Tidak, aku serius. Jangan pernah temui aku lagi, Seifer. Selamat tinggal."
"Tapi, Elle!" saat dia hendak pergi, kutarik tangannya, membuat ia terhenti dan menoleh.
"Biarkan aku pergi... Kumohon..." dia melepaskan cengkeraman tanganku dengan tangannya yang satunya lagi. Aku hanya bisa terpaku melihatnya pergi.
~~~
Aku datang ke rumah Ellone, hendak memastikan kebenaran kabar bahwa Ellone akan segera menikah.
"Siang, Paman." Sapaku saat Paman Laguna membukakan pintu untukku.
"Seifer! Kemana saja kau? Apa yang terjadi pada hubungan kalian? Kenapa Ellone tiba-tiba memaksa untuk menikah dengan Duke secepatnya? Elle mencintaimu kan?" Paman Laguna bertanya tanpa henti, tak memberikan kesempatan bagiku untuk menjawab.
"Tenanglah, Paman. Sekarang mana Ellone?" tanyaku. Paman Laguna terlihat lesu mendengar pertanyaanku.
"Ellone...dia pergi satu jam yang lalu. Dia akan dirias untuk pernikahannya hari ini." Aku kaget mendengar jawaban Paman Laguna. Tapi kucoba untuk lebih tenang, berusaha memikirkan cara untuk meminta penjelasan pada Ellone yang akan menikah hari ini. Jujur saja, aku tidak rela bila dia menikah dengan orang lain, tapi aku tak boleh panik, atau aku tak akan menemukan titik terang dari masalah ini.
"Paman...boleh aku ke kamar Ellone?"
"Tentu saja. Ini kunci kamarnya, dan ini kunci rumah ini."
"Sudah mau pergi kesana ya?"
"Ya. Aku sangat berharap, kau muncul disana dan mencegah semuanya. Menurutku, Duke bukanlah orang yang terbaik untuk Ellone."
"Sampai jumpa, Paman. Begitu aku bertemu Paman lagi, akan kukembalikan kunci-kunci ini."
"Baiklah. Ingat, acaranya pukul enam malam ini. Aku pergi, Seifer." Paman Laguna keluar dari rumahnya sementara aku bergegas ke kamar Ellone.
~~~
"Mana buku itu? Dimana dia menyembunyikannya?" Aku mencari buku milik Ellone di laci meja di kamarnya, tapi tak ada. Kemudian aku menoleh ke arah sebuah peti tersembunyi di sisi kamar. Kucoba membuka peti itu namun terkunci.
"Sial! Kenapa dikunci!" gerutuku. Aku tak kehilangan akal. Aku mencoba membuka peti itu dengan sebuah peniti yang kutemukan di lantai.
CKLEK!
"Berhasil! Sekarang mana buku itu..." Aku mengobrak-abrik isi peti itu.
"Ini kan..." Sebuah selimut kutemukan didasar kotak itu. Itu adalah selimut bertambal kain katun warna coklat muda yang dijahitkan Matron. Selimut yang pertama dan terakhir kalinya kupakaikan pada Ellone di malam sebelum ia pergi dari orphanage lima belas tahun yang lalu.
"Selimut lusuh ini ternyata dia simpan ya..." kataku sambil tersenyum. Aku baru sadar kalau benda-benda di dalam peti itu adalah semua benda yang pernah kuberikan padanya. Tiga kuntum bunga Lily putih berpita merah di tangkainya yang masing-masingnya kuberikan padanya saat memperingati hari kematian Raine juga ada disitu.
"Kancing ini...kancing jubahku kan? Apa kancing ini lepas lalu dipungut olehnya?" Aku teringat saat aku masih terpengaruh oleh mimpi konyolku. Aku menyandera Ellone untuk kupersembahkan pada Sorceress dari masa depan itu. Mungkin kancing ini putus saat aku bertarung dengan Squall ketika ia hendak menyelamatkan Ellone, lalu Ellone memungutnya.
"Topeng Tonberry? Hahaha!" Itu adalah topeng yang kukenakan saat ada festival di Timber. Ia bilang, Tonberry lebih tampan dan lebih lucu daripada aku. Aku gunakan topeng itu seharian penuh hingga meninggalkan bekas karet di telingaku. Tapi aku tak peduli, setidaknya topeng ini bisa membuatnya tertawa.
"Boneka rajut? Aku tak pernah memberikan benda ini padanya... Apa ini buatannya? Indah sekali..." Kuangkat sepasang boneka rajut yang tangannya digandengkan. Boneka itu mirip aku dan dia. Dia dengan selendang hijaunya, dan aku dengan jubah putihku.
"Ellone... Kalau kau menyimpan berbagai benda dariku, kenapa kau tega meninggalkanku?" gumamku sambil memainkan peti itu. Dari tutup peti itu, jatuh sebuah buku berwarna hitam dengan pita merah di cover buku itu.
"Ah, ini dia!" Buku yang kucari-cari akhirnya ketemu. Buku Diary milik Ellone. Buku yang mungkin akan memberikan jawaban pada pertanyaan besar di otakku. Kubolak-balik buku itu, menerka-nerka apa yang tertulis di dalamnya. Terdengar suara ketukan dari buku itu.
"Hmm? Ada apa di dalam buku ini?" Kugoyang-goyangkan buku itu. Kubuka buku itu. Di bagian paling depan, ada sebuah tempat untuk menyimpan pulpen. Saat kubuka bagian itu, aku terkejut melihat isinya.

Kamis, 10 Desember 2015

Eternal Love - chapter 3

"Siapa kau? Lepaskan aku!" rintihku sambil menahan sakit. Cengkraman tangan orang itu sangat kuat hingga aku tak bisa bergerak.
"Lama tak berjumpa ya, Ellone." Seorang pemuda berambut coklat muncul dari belakang orang itu.
"Duke?" gumamku. Dia adalah anak dari Presiden Deling, Vinzer Deling. Dulu kami pernah bertemu di Deling saat aku berkunjung kesana bersama para White SeeD. Dialah orang yang membantuku mencari para White SeeD karena aku terpisah dari mereka. Saat itu, sedang ada festival di Deling, sehingga sangat mudah untuk terpisah dari rombongan. Kini dia ada dihadapanku sekarang.
"Ikutlah bersamaku. Kau akan kujadikan sebagai ratuku, dan kita akan hidup bahagia selamanya."
"Lepaskan Ellone!" teriak Seifer. Ia dipegangi oleh satu orang lainnya, mungkin mereka adalah pesuruh Duke.
"Santailah... Aku takkan lakukan hal buruk. Aku akan membuatnya bahagia." Kata Duke sambil mendekat padaku.
"LEPASKAN!!!" Seifer berhasil melepaskan diri dari orang itu. Ia mengambil sesuatu dari kantung jaketnya lalu segera melingkarkan lengan kirinya pada leher Duke sambil memegang pisau.
"Lepaskan Ellone, atau kubunuh bos kalian!" Kata Seifer pada orang yang memegangiku.
"Seifer, jangan!" teriakku sambil memberontak. Namun aku tidak cukup kuat untuk melepaskan diriku dari cengkraman orang itu.
"Mereka takkan terpengaruh. Mereka tau kalau kau hanya menggertak. Menyerah saja, dan biarkan kami membawa Ellone." Kata Duke dengan nada mengejek.
"Kau....!" Seifer hendak menusuk Duke dengan pisaunya, tapi tangannya terhenti tiba-tiba seperti ada sesuatu yang memaksanya untuk berhenti, padahal mudah saja bagi Seifer untuk menusuknya saat itu. Lalu Duke memegangi tangan kiri Seifer.
"Bermain-main dengan benda seperti ini sangat berbahaya. Kau tau, benda ini bisa menolongmu, atau menghancurkanmu!" setelah menyelesaikan kata-katanya, Duke menarik tangan Seifer yang sedang memegang pisau hingga pisau yang ada di tangan Seifer melukai lehernya. Duke jatuh tersungkur dengan darah yang mengucur deras dari lehernya. Tak lama kemudian datanglah ambulance dan polisi.
"Kau harus ikut kami ke kantor polisi!" Salah seorang polisi menarik Seifer ke dalam mobil polisi.
"Jangan bawa dia, pak! Dia tidak bersalah!" kataku yang saat itu telah dilepaskan oleh orang suruhan Duke.
"Nanti saja kau beri keterangan di kantor polisi." Kata supir mobil polisi. Aku dan kedua orang suruhan Duke masuk ke mobil polisi, sedangkan Duke dilarikan ke rumah sakit.

~~~

Kini Seifer berada dibalik jeruji besi karena dituduh melakukan percobaan pembunuhan. Para suruhan Duke memberikan keterangan palsu yang memberatkan Seifer dalam kasus ini. Kami dipertemukan di ruang jenguk.
"Seifer..." panggilku. Ia terlihat sangat kacau. Sepertinya peristiwa yang baru saja terjadi membuatnya frustasi.
"Bukan aku yang melakukannya. Dia yang melukai dirinya sendiri. Kau percaya padaku kan, Ellone?" ucap Seifer.
"Ya, Seifer, aku percaya padamu. Aku tau, kau takkan tega melakukan hal itu." Jawabku.
"Syukurlah. Kepercayaan darimu sudah cukup untuk membuatku kembali bersemangat. Terima kasih, Ellone."
"Tak perlu berterima kasih. Aku bahkan tak bisa membantumu supaya kau dibebaskan."
"Nanti kita pikirkan caranya bersama-sama. Sekarang sebaiknya kau pulang. Kudengar paman Laguna kesini menjemputmu dengan Ragnarok."
"Tapi aku ingin disini menemanimu." Kataku sambil menunjukkan wajah memelas.
"Hei... Ellone... kau kan tau kalau aku tidak sanggup melihat wajah seperti itu. Pulanglah. Aku akan baik-baik saja disini."
"Hmm....baiklah, Seifer. Aku akan pulang. Jagalah dirimu baik-baik ya, Seifer. Besok aku akan mengunjungimu lagi. Aku akan buatkan makanan kesukaanmu. Sampai jumpa, Seifer." Kulambaikan tangan padanya sambil tersenyum. Senyum pilu. Aku tak tau harus berbuat apa agar dia bebas.

~~~

Tiga hari telah berlalu sejak hari itu. Aku mendengar kabar bahwa hari ini Seifer akan disidang. Aku betul-betul panik, tidak tau harus melakukan apa. Akhirnya aku memutuskan untuk datang ke rumah sakit, memohon pada Duke agar mau membebaskan Seifer.
"Ellone! Akhirnya kau datang juga!" Sambut Duke. Nampaknya kondisinya sudah jauh lebih baik. Aku mendekat padanya.
"Duke... Aku kesini karena aku ingin memohon padamu. Tolong, bebaskan Seifer." Ucapku.
"Mana bisa begitu, dia hampir membuatku mati!" kata Duke setengah berteriak.
"Aku tau, kau yang sengaja melukai dirimu sendiri, tapi kenapa kau tega membuat Seifer dipenjara?"
"Orang yang angkuh memang pantas dipenjara. Lagipula, waktu itu aku hanya ingin membawamu pergi. Salahnya sendiri, kenapa dia mengeluarkan benda berbahaya itu."
"Kumohon, Duke, bebaskan Seifer..."
"Aku bisa bebaskan dia, tapi dengan satu syarat." Kata Duke

Rabu, 09 Desember 2015

Eternal Love - Chapter 2

[Cerbung] Eternal Love - Chapter 2
Oleh: icajahe
- Ellone's POV -
Kita mau kemana?" Tanyaku.
"Nanti juga tau. Ayo, naiklah ke perahu." Kata Seifer sambil naik ke perahu. Aku naik ke perahu lalu duduk di sebelahnya.
"Kau kesini naik ini?" Tanyaku.
"Ya, kau bilang ingin naik perahu sambil menikmati udara di lautan kan?"
"Ya, tapi kau dapat perahu ini darimana?"
"Dari seorang pria tua. Awalnya ia menolak meminjamkan perahunya padaku, tapi ia bilang, jika aku dapatkan ikan besar lebih dulu daripada dia, dia akan meminjamkan perahunya padaku."
"Tanding mancing? Kau kan tidak suka hal membosankan semacam itu."
"Ya, tapi kapan lagi aku bisa membuatmu senang. Kau bilang, selama ini yang bisa kulakukan hanya hal bodoh yang selalu membuatmu pusing."
"Tapi, Seifer, itu...maaf, aku tak bermaksud bicara begitu." Aku menunduk.
"Tak apa, Elle. Lagipula, kini aku tau kenapa Raijin begitu suka memancing. Saat dapatkan ikan, ia selalu kegirangan, walaupun ikan yang ia dapatkan sangat kecil. Ternyata ada kepuasan tersendiri saat mendapatkan ikan." ceritanya panjang lebar. Seulas senyum nampak di wajahnya.
"..." Aku memandanginya sambil tersenyum. Saat ia tersenyum, ia kelihatan begitu manis. Kurasa, wajahku mulai memerah.
"Kenapa tersenyum? Kagum dengan pengorbananku? Hahaha!" Ia tertawa dengan bangga sambil meletakkan papan dayung.
'Ah, momen itu selalu saja dihancurkan olehnya!' Gerutuku dalam hati.
"Kenapa diam, Elle?" Ia menatapku dengan jarak yang sangat dekat. Hidungnya hampir menyentuh hidungku. Kini mungkin wajahku semerah kepiting rebus.
"Tak apa, Seif. Ka..kali in...ni a...aku yang mendayung ya?" Kataku gugup. kuraih papan dayung di sebelahku. Tiba-tiba ia menarik tanganku.
"Biar aku saja yang dayung." Ucapnya sambil tersenyum.
"I..iya." Tanganku masih gemetar, padahal Seifer sudah melepaskan genggamannya. Aku terdiam beberapa saat sampai gugupku hilang.
"Hmm... Seifer."
"Ya, Elle?"
"Kau...mendayung perahu ini dari mana?"
"Dari tempat yang akan kita tuju nanti."
"Jaraknya jauh ya? Tidak lelah?"
"Hanya dengan memandang wajahmu, rasa lelahku hilang seketika." Kata Seifer. Senyumnya kembali menghiasi wajahnya.
"Gombal." kataku sambil menyembunyikan senyum di wajahku.
"Tidak, itu sungguhan. Lihat wajahku, tak terlihat gurat lelah sedikitpun kan? itu karenamu." Ia memegang kedua bahuku, lalu menatapku lekat-lekat. Kubalas menatapnya, tapi sesekali aku melirik ke arah lain, karena wajahku akan memerah jika aku menatap wajahnya dari dekat.
'Memang tidak terlihat lelah, tapi...' Wajahku memerah lagi.
"Ya, kurasa kau benar." Aku segera memalingkan wajahku.
"Maaf ya, tadi aku datang terlambat. Memancing ikan besar ternyata tidak mudah. Hehehe!"
"Tidak apa-apa, yang penting kau datang."
~~~
"Nah, sudah sampai. Ayo turun!" Ia turun dari perahu sambil menarik tanganku.
"Sudah selesai gunakan perahunya, nak?" Tiba-tiba seorang lelaki tua muncul dari balik truk yang terparkir di dekat dermaga.
"Ya, pak tua."
"Siapa wanita cantik ini? Kau menjemput wanita ini dengan perahu? Sungguh tidak berperasaan."
"Heei, pak tua! Ini keinginannya! Lagipula sangat sulit bila aku harus kesana dengan kereta apalagi berjalan kaki." kata Seifer kasar.
"Seifer! Jangan berkata kasar begitu, orang ini sudah berbaik hati meminjamkan perahu padamu."
"Yaa, baiklaaaah, terima kasih, paaaak~" Seifer berterima kasih pada lelaki tua itu dengan terpaksa.
"Nah, gitu dong!" ucapku padanya.
"Bersyukurlah, nak, kau punya kekasih yang begitu baik hati seperti nona ini." kata lelaki tua itu pada Seifer sambil melangkah pergi.
"Selalu saja bertindak kasar pada orang lain. Tak bisakah ramah sedikit?" kritikku.
"Nampaknya aku masih butuh belajar untuk beramah tamah. Maafkan aku ya, Elle?" kata Seifer.
"Baiklah, tapi mulai sekarang, belajarlah untuk lebih ramah." Ucapku sambil tersenyum.
"Ellooooone, kau baik sekali. Aku cinta padamu." Ia mencium pipiku lalu menarik tanganku, mengajakku berlari bersamanya.
"Jangan tiba-tiba lakukan hal seperti itu!" Protesku. Kini wajahku sudah benar-benar merah.
"Hahaha! Ayo, kita ke rumah teman lama!" Katanya sambil terus berlari.
~~~
Kami tiba di depan pintu rumah teman lama kami. Seifer menggedor pintu itu seperti lintah darat yang sedang menagih hutang. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuannya. Tak lama kemudian, terdengar suara pintu terbuka. Seorang pemuda dengan wajah bertato muncul dari rumah itu.
"Yo, Chicken Wuzz!" kata Seifer sambil mengangkat sebelah tangannya.
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu, Seifer!" Pemuda itu marah dan hampir memukul perut Seifer. Tapi Seifer segera menangkisnya dengan sebelah tangannya.
"Masih kekanak-kanakan seperti dulu. Hahaha!" ejek Seifer.
"Kau....!" Pemuda itu mulai mengangkat tinjunya lagi. Aku segera menampakkan diriku yang saat itu tertutupi tubuh Seifer yang tinggi.
"Selamat siang, Zell." kataku pada pemuda berjambul ayam itu.
"Waaah, kak Ellone! Kenapa bisa ada disini?" Zell menurunkan tinjunya lalu menghampiriku.
"Dia kesini bersamaku." ucap Seifer.
"Oh, kau kesini bersama Seifer ya....HAH?! Kakak, ayo cepat sembunyi, kalau Squall tau, akan terjadi perang dunia ketiga!" kata Zell panik.
"Berisiiiiik!" omel Seifer.
"Kenapa masih disini? Cepat pergi! Aku tak mau ada keributan di Balamb!" kata Zell hendak mengusir Seifer.
"Squall sudah merestui kami. Hanya tinggal tunggu waktu yang tepat untuk melamar Ellone." ucap Seifer enteng.
"Bagaimana bisa? Kalian kan rival abadi." kata Zell tak percaya.
"Entah apa yang membuatnya berubah pikiran, tapi dia mempercayakan Ellone padaku. Dia yang mengatakannya padaku tiga hari yang lalu."
"Yang benar? Jangan-jangan kau yang memaksanya mengatakan hal itu."
"Aku serius. Ia mengatakan itu dalam kondisi tubuh yang sangat sehat dan tak ada benturan di kepalanya yang membuat otaknya bergeser. Mungkin dia sudah mengakui kehebatan rivalnya ini. Hahaha!"
"Percaya diri sekali kau! Yasudahlah! Tapi jika tiba-tiba Squall datang lalu membuat kekacauan di Balamb karena melihatmu bersama Ellone, kau harus ganti rugi!"
"Yaaaa. Sekarang persilahkan kami masuk!"
~~~
"Ada perlu apa kalian kemari?" tanya Zell.
"Buatkan kami berdua sepasang cincin dari perak. Kau mahir membuat benda-benda seperti itu kan?" kata Seifer tanpa basa-basi.
"Tentu saja! Kalian datang ke orang yang tepat! Tinggal tentukan desainnya saja." jawab Zell semangat.
"Cincin untuk apa?" tanyaku.
"Tentu saja untuk pernikahan kita berdua, Ellone." jawab Seifer dengan senyum khasnya.
"Pe...pernikahan? Memangnya kau pernah melamarku?" Aku masih bingung dengan pernyataan Seifer yang mengejutkan.
"Belum, tapi akan kulakukan." ucapnya mantap sambil menatapku. Aku balas tatapannya dengan senyuman.
"SEIFEEEEER, DESAINNYAAAAA!" Teriakan Zell membuatku kaget dan langsung terdiam.
"Hoi, jangan ganggu kami!" Omel Seifer.
"Kau kesini mau numpang pacaran atau mau minta dibuatkan cincin sih?!" Zell menutup kotak peralatannya dengan kencang.
"Maafkan kami, Zell." Ucapku. Lalu kulihat Zell membuka kembali kotak peralatannya.
"Desainnya sudah kubuat sejak lama." Seifer mengeluarkan secarik kertas dari kantung celananya lalu menyodorkannya pada Zell.
"Ini...buatanmu?" Zell terlihat agak kaget. Aku yang berada di depan Zell, mengintip kertas desain itu dari arahku, tapi tak kelihatan karena kertasnya cukup tebal.
"Ya." jawabnya singkat.
"Kau ternyata punya bakat dalam mendesain cincin juga ya... bagaimana kalau kita bekerja sama? Nanti kita akan buat toko perhiasan yang besar, dan..."
"Aku tak tertarik. Kapan cincin itu selesai dibuat?" potong Seifer.
"Mungkin satu minggu. Sangat rumit membuat cincin dengan ukiran yang sangat detail seperti ini. Biasanya aku hanya butuh dua hari untuk membuat cincin, tapi untuk yang satu ini...butuh waktu lama."
"Oke. Pembayaran ditunda sampai aku dapat gaji dari Garden ya?"
"Masalah pembayaran, kau bisa membayarnya kapanpun. Kalau cincinnya sudah jadi, mau kuantar ke dorm mu atau mau kau ambil sendiri disini?"
"Aku yang akan mengambilnya. Satu minggu lagi."
"Baiklah! Aku akan mulai mengerjakannya! Terima kasih atas ordernya, Seifer, silahkan datang lagi!"
"Kau mengusir kami?" Seifer menarik kerah baju Zell.
"Ti...tidak! Lisanku sudah terbiasa mengatakan itu, mungkin karena aku kerja sambilan juga di toko mie Ramen dekat rumahku." Jelas Zell.
"Huh! Yasudahlah, kami pergi, Chicken Wuzz!" Ledek Seifer sambil melangkah menuruni tangga kamar Zell.
"Kami pulang dulu ya, Zell. Sampai Jumpa." Aku  melambaikan tangan pada Zell sedang menunduk.
"GRRR, SEIFEEEER!" Teriak Zell dari dalam kamar. Aku meringis mendengar teriakannya.
"Hahahaha!" Seifer tertawa terbahak-bahak, sepertinya merasa puas karena telah berhasil membuat Zell terbakar. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Bibi, kami pamit pulang dulu ya!" Ucapku pada Ma Dincht sambil tersenyum.
"Ya, nak, hati-hati ya!" Kata Ma Dincht.
~~~
Aku dan Seifer meninggalkan rumah Zell. Seifer mengajakku ke restoran Sushi karena dia sudah lapar. Kami keasyikan mengobrol disana sampai tidak sadar kalau sebentar lagi matahari akan terbenam. Sebelum pulang, Seifer mengajakku ke tepi dermaga.
"Waaaaah, indah sekali! Lihat itu, Seif!" Kataku sambil menarik-narik lengan baju Seifer, seperti anak kecil yang mau menunjukkan sesuatu pada orangtuanya.
"Kau suka pemandangannya ya?" Kata Seifer.
"Tentu saja, Seifer. Terima kasih sudah mengajakku kesini."
"Iya. Ehm...Ellone..." Seifer kini menghadap kearahku.
"Ya, Seifer?" Aku menatap wajahnya yang terlihat agak ragu, wajah yang tak pernah ia tunjukkan sebelumnya.
"Aku...apa aku bisa melindungimu? Aku ingin bisa selalu bersamamu. Aku ingin selalu jadi orang pertama yang menghapus air matamu, menghapus segala kesedihanmu lalu menggantikannya dengan segores senyum di wajahmu. Aku ingin jadi orang yang paling bisa kau andalkan, orang yang paling bisa menjaga perasaanmu, orang yang takkan pernah membuatmu menangis karena tingkahku. Tiap kali aku melihat wajah kesalmu melalui sudut mataku, saat itu pula aku sangat membenci diriku sendiri. Kenapa orang yang begitu mencintaimu ini begitu tega membuatmu kesal, marah. Aku terus mencoba untuk jadi orang yang baik, yang pantas jadi pendampingmu, tapi usahaku selalu gagal." Aku terus menatap wajah Seifer. Matanya berkaca-kaca. Bola matanya mengarah ke laut yang ada disampingku, seakan takut melihat ekspresi wajahku saat itu.
"Aku bahagia bersamamu. Aku tak peduli, sekalipun kau selalu bertingkah semaumu. Aku salut dengan usahamu. Aku yakin, tak ada yang sia-sia asal mau terus berusaha. Maaf ya, aku selalu kesal padamu, tak pernah bisa melihat sisi baikmu."
"Tak apa, Ellone. Aku bahagia, kau masih ada di sisiku sampai saat ini. Berjanjilah kau akan selalu ada disisiku sampai kapanpun." Ucap Seifer lirih.
"Ya, Seifer, aku janji." Ia memelukku perlahan. Aku balas memeluknya, air mata bahagia mengalir deras dari mataku. Tapi kebahagiaan rasanya akan segera sirna. Seseorang menarik tanganku, berusaha merebutku dari pelukan Seifer.
Note: Jangan cari Chapter 1 nya ya. Chapter 1 nya hilang. Hanya ada dari chapter 2 sampai chapter akhir. Saya post disini supaya ingat aja kalau dulu pernah bikin cerbung :D
COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES