Jumat, 11 Desember 2015

Eternal Love - chapter 4


Seifer's POV
Empat hari kemudian, aku dibebaskan. Duke telah mencabut tuntutannya padaku. Sampai sekarang aku masih heran, kenapa dia melukai dirinya sendiri, dan kenapa dia membebaskanku sekarang. Tapi untuk saat ini, aku tak mau memikirkannya. Aku akan mengunjungi Ellone di Balamb Garden setelah kuselesaikan urusanku.
"Cincinnya sudah jadi?" tanyaku pada Zell begitu aku tiba dirumahnya.
"Tentu saja! Harganya Sepuluh Ribu Gill."
"KAU MAU CARI MATI YA?! MANA ADA CINCIN PERAK SEMAHAL ITU!!" teriak Seifer.
"KAU PIKIR MUDAH MEMBUATNYA! AKU SAMPAI HARUS BEGADANG UNTUK MENYELESAIKANNYA TEPAT WAKTU!" teriak Zell tak mau kalah.
"Oke.. Bagaimana kalau setengah harga? Gajiku hanya Sepuluh Ribu. Kalau harganya segitu, aku bisa bangkrut."
"Baiklah, tapi jangan pernah kau panggil aku Chicken-wuss lagi!"
"Oke.. Okee.. Deal!"
"Deal!"
~~~
Siang ini aku mengajak Ellone ke Quad. Aku ingin beri kejutan padanya.
"Ellone!"
"..." Ia melangkah mendekatiku. Tak ada senyum, tak ada keceriaan. Hanya wajah datar, seolah tak menginginkan kehadiranku.
"Aku  bebas, Ellone!" Kupeluk dirinya, erat. Sudah dua hari aku tak bertemu dengannya, rasanya rindu sekali.
"Lepaskan aku." ucapnya pelan.
"Apa maksudmu?" tanyaku.
"Kubilang lepaskan aku!" Ellone menaikkan nada bicaranya sambil memberontak, berusaha melepaskan diri dari pelukanku. Tak pernah kulihat dia bersikap seperti ini sebelumnya.
"Baiklah. Hmm... Ellone... Maukah kau...menikah denganku?" kukeluarkan cincin itu dari kantung celanaku.
"Tidak." tolaknya.
"Kenapa? Bukankah dulu kau sudah berjanji kalau kau akan selalu berada disisiku?"
"Dulu dan sekarang itu berbeda! Aku tak mau bersama dengan laki-laki kasar sepertimu!"
"Tapi, Elle..."
"Kau tau, sebentar lagi aku akan menikah, dengan Duke." Aku syok mendengar ucapannya, hingga tak sadar aku menjatuhkan cincin yang kupegang.
"Kau bercanda kan?"
"Tidak, aku serius. Jangan pernah temui aku lagi, Seifer. Selamat tinggal."
"Tapi, Elle!" saat dia hendak pergi, kutarik tangannya, membuat ia terhenti dan menoleh.
"Biarkan aku pergi... Kumohon..." dia melepaskan cengkeraman tanganku dengan tangannya yang satunya lagi. Aku hanya bisa terpaku melihatnya pergi.
~~~
Aku datang ke rumah Ellone, hendak memastikan kebenaran kabar bahwa Ellone akan segera menikah.
"Siang, Paman." Sapaku saat Paman Laguna membukakan pintu untukku.
"Seifer! Kemana saja kau? Apa yang terjadi pada hubungan kalian? Kenapa Ellone tiba-tiba memaksa untuk menikah dengan Duke secepatnya? Elle mencintaimu kan?" Paman Laguna bertanya tanpa henti, tak memberikan kesempatan bagiku untuk menjawab.
"Tenanglah, Paman. Sekarang mana Ellone?" tanyaku. Paman Laguna terlihat lesu mendengar pertanyaanku.
"Ellone...dia pergi satu jam yang lalu. Dia akan dirias untuk pernikahannya hari ini." Aku kaget mendengar jawaban Paman Laguna. Tapi kucoba untuk lebih tenang, berusaha memikirkan cara untuk meminta penjelasan pada Ellone yang akan menikah hari ini. Jujur saja, aku tidak rela bila dia menikah dengan orang lain, tapi aku tak boleh panik, atau aku tak akan menemukan titik terang dari masalah ini.
"Paman...boleh aku ke kamar Ellone?"
"Tentu saja. Ini kunci kamarnya, dan ini kunci rumah ini."
"Sudah mau pergi kesana ya?"
"Ya. Aku sangat berharap, kau muncul disana dan mencegah semuanya. Menurutku, Duke bukanlah orang yang terbaik untuk Ellone."
"Sampai jumpa, Paman. Begitu aku bertemu Paman lagi, akan kukembalikan kunci-kunci ini."
"Baiklah. Ingat, acaranya pukul enam malam ini. Aku pergi, Seifer." Paman Laguna keluar dari rumahnya sementara aku bergegas ke kamar Ellone.
~~~
"Mana buku itu? Dimana dia menyembunyikannya?" Aku mencari buku milik Ellone di laci meja di kamarnya, tapi tak ada. Kemudian aku menoleh ke arah sebuah peti tersembunyi di sisi kamar. Kucoba membuka peti itu namun terkunci.
"Sial! Kenapa dikunci!" gerutuku. Aku tak kehilangan akal. Aku mencoba membuka peti itu dengan sebuah peniti yang kutemukan di lantai.
CKLEK!
"Berhasil! Sekarang mana buku itu..." Aku mengobrak-abrik isi peti itu.
"Ini kan..." Sebuah selimut kutemukan didasar kotak itu. Itu adalah selimut bertambal kain katun warna coklat muda yang dijahitkan Matron. Selimut yang pertama dan terakhir kalinya kupakaikan pada Ellone di malam sebelum ia pergi dari orphanage lima belas tahun yang lalu.
"Selimut lusuh ini ternyata dia simpan ya..." kataku sambil tersenyum. Aku baru sadar kalau benda-benda di dalam peti itu adalah semua benda yang pernah kuberikan padanya. Tiga kuntum bunga Lily putih berpita merah di tangkainya yang masing-masingnya kuberikan padanya saat memperingati hari kematian Raine juga ada disitu.
"Kancing ini...kancing jubahku kan? Apa kancing ini lepas lalu dipungut olehnya?" Aku teringat saat aku masih terpengaruh oleh mimpi konyolku. Aku menyandera Ellone untuk kupersembahkan pada Sorceress dari masa depan itu. Mungkin kancing ini putus saat aku bertarung dengan Squall ketika ia hendak menyelamatkan Ellone, lalu Ellone memungutnya.
"Topeng Tonberry? Hahaha!" Itu adalah topeng yang kukenakan saat ada festival di Timber. Ia bilang, Tonberry lebih tampan dan lebih lucu daripada aku. Aku gunakan topeng itu seharian penuh hingga meninggalkan bekas karet di telingaku. Tapi aku tak peduli, setidaknya topeng ini bisa membuatnya tertawa.
"Boneka rajut? Aku tak pernah memberikan benda ini padanya... Apa ini buatannya? Indah sekali..." Kuangkat sepasang boneka rajut yang tangannya digandengkan. Boneka itu mirip aku dan dia. Dia dengan selendang hijaunya, dan aku dengan jubah putihku.
"Ellone... Kalau kau menyimpan berbagai benda dariku, kenapa kau tega meninggalkanku?" gumamku sambil memainkan peti itu. Dari tutup peti itu, jatuh sebuah buku berwarna hitam dengan pita merah di cover buku itu.
"Ah, ini dia!" Buku yang kucari-cari akhirnya ketemu. Buku Diary milik Ellone. Buku yang mungkin akan memberikan jawaban pada pertanyaan besar di otakku. Kubolak-balik buku itu, menerka-nerka apa yang tertulis di dalamnya. Terdengar suara ketukan dari buku itu.
"Hmm? Ada apa di dalam buku ini?" Kugoyang-goyangkan buku itu. Kubuka buku itu. Di bagian paling depan, ada sebuah tempat untuk menyimpan pulpen. Saat kubuka bagian itu, aku terkejut melihat isinya.

Kamis, 10 Desember 2015

Eternal Love - chapter 3

"Siapa kau? Lepaskan aku!" rintihku sambil menahan sakit. Cengkraman tangan orang itu sangat kuat hingga aku tak bisa bergerak.
"Lama tak berjumpa ya, Ellone." Seorang pemuda berambut coklat muncul dari belakang orang itu.
"Duke?" gumamku. Dia adalah anak dari Presiden Deling, Vinzer Deling. Dulu kami pernah bertemu di Deling saat aku berkunjung kesana bersama para White SeeD. Dialah orang yang membantuku mencari para White SeeD karena aku terpisah dari mereka. Saat itu, sedang ada festival di Deling, sehingga sangat mudah untuk terpisah dari rombongan. Kini dia ada dihadapanku sekarang.
"Ikutlah bersamaku. Kau akan kujadikan sebagai ratuku, dan kita akan hidup bahagia selamanya."
"Lepaskan Ellone!" teriak Seifer. Ia dipegangi oleh satu orang lainnya, mungkin mereka adalah pesuruh Duke.
"Santailah... Aku takkan lakukan hal buruk. Aku akan membuatnya bahagia." Kata Duke sambil mendekat padaku.
"LEPASKAN!!!" Seifer berhasil melepaskan diri dari orang itu. Ia mengambil sesuatu dari kantung jaketnya lalu segera melingkarkan lengan kirinya pada leher Duke sambil memegang pisau.
"Lepaskan Ellone, atau kubunuh bos kalian!" Kata Seifer pada orang yang memegangiku.
"Seifer, jangan!" teriakku sambil memberontak. Namun aku tidak cukup kuat untuk melepaskan diriku dari cengkraman orang itu.
"Mereka takkan terpengaruh. Mereka tau kalau kau hanya menggertak. Menyerah saja, dan biarkan kami membawa Ellone." Kata Duke dengan nada mengejek.
"Kau....!" Seifer hendak menusuk Duke dengan pisaunya, tapi tangannya terhenti tiba-tiba seperti ada sesuatu yang memaksanya untuk berhenti, padahal mudah saja bagi Seifer untuk menusuknya saat itu. Lalu Duke memegangi tangan kiri Seifer.
"Bermain-main dengan benda seperti ini sangat berbahaya. Kau tau, benda ini bisa menolongmu, atau menghancurkanmu!" setelah menyelesaikan kata-katanya, Duke menarik tangan Seifer yang sedang memegang pisau hingga pisau yang ada di tangan Seifer melukai lehernya. Duke jatuh tersungkur dengan darah yang mengucur deras dari lehernya. Tak lama kemudian datanglah ambulance dan polisi.
"Kau harus ikut kami ke kantor polisi!" Salah seorang polisi menarik Seifer ke dalam mobil polisi.
"Jangan bawa dia, pak! Dia tidak bersalah!" kataku yang saat itu telah dilepaskan oleh orang suruhan Duke.
"Nanti saja kau beri keterangan di kantor polisi." Kata supir mobil polisi. Aku dan kedua orang suruhan Duke masuk ke mobil polisi, sedangkan Duke dilarikan ke rumah sakit.

~~~

Kini Seifer berada dibalik jeruji besi karena dituduh melakukan percobaan pembunuhan. Para suruhan Duke memberikan keterangan palsu yang memberatkan Seifer dalam kasus ini. Kami dipertemukan di ruang jenguk.
"Seifer..." panggilku. Ia terlihat sangat kacau. Sepertinya peristiwa yang baru saja terjadi membuatnya frustasi.
"Bukan aku yang melakukannya. Dia yang melukai dirinya sendiri. Kau percaya padaku kan, Ellone?" ucap Seifer.
"Ya, Seifer, aku percaya padamu. Aku tau, kau takkan tega melakukan hal itu." Jawabku.
"Syukurlah. Kepercayaan darimu sudah cukup untuk membuatku kembali bersemangat. Terima kasih, Ellone."
"Tak perlu berterima kasih. Aku bahkan tak bisa membantumu supaya kau dibebaskan."
"Nanti kita pikirkan caranya bersama-sama. Sekarang sebaiknya kau pulang. Kudengar paman Laguna kesini menjemputmu dengan Ragnarok."
"Tapi aku ingin disini menemanimu." Kataku sambil menunjukkan wajah memelas.
"Hei... Ellone... kau kan tau kalau aku tidak sanggup melihat wajah seperti itu. Pulanglah. Aku akan baik-baik saja disini."
"Hmm....baiklah, Seifer. Aku akan pulang. Jagalah dirimu baik-baik ya, Seifer. Besok aku akan mengunjungimu lagi. Aku akan buatkan makanan kesukaanmu. Sampai jumpa, Seifer." Kulambaikan tangan padanya sambil tersenyum. Senyum pilu. Aku tak tau harus berbuat apa agar dia bebas.

~~~

Tiga hari telah berlalu sejak hari itu. Aku mendengar kabar bahwa hari ini Seifer akan disidang. Aku betul-betul panik, tidak tau harus melakukan apa. Akhirnya aku memutuskan untuk datang ke rumah sakit, memohon pada Duke agar mau membebaskan Seifer.
"Ellone! Akhirnya kau datang juga!" Sambut Duke. Nampaknya kondisinya sudah jauh lebih baik. Aku mendekat padanya.
"Duke... Aku kesini karena aku ingin memohon padamu. Tolong, bebaskan Seifer." Ucapku.
"Mana bisa begitu, dia hampir membuatku mati!" kata Duke setengah berteriak.
"Aku tau, kau yang sengaja melukai dirimu sendiri, tapi kenapa kau tega membuat Seifer dipenjara?"
"Orang yang angkuh memang pantas dipenjara. Lagipula, waktu itu aku hanya ingin membawamu pergi. Salahnya sendiri, kenapa dia mengeluarkan benda berbahaya itu."
"Kumohon, Duke, bebaskan Seifer..."
"Aku bisa bebaskan dia, tapi dengan satu syarat." Kata Duke

Rabu, 09 Desember 2015

Eternal Love - Chapter 2

[Cerbung] Eternal Love - Chapter 2
Oleh: icajahe
- Ellone's POV -
Kita mau kemana?" Tanyaku.
"Nanti juga tau. Ayo, naiklah ke perahu." Kata Seifer sambil naik ke perahu. Aku naik ke perahu lalu duduk di sebelahnya.
"Kau kesini naik ini?" Tanyaku.
"Ya, kau bilang ingin naik perahu sambil menikmati udara di lautan kan?"
"Ya, tapi kau dapat perahu ini darimana?"
"Dari seorang pria tua. Awalnya ia menolak meminjamkan perahunya padaku, tapi ia bilang, jika aku dapatkan ikan besar lebih dulu daripada dia, dia akan meminjamkan perahunya padaku."
"Tanding mancing? Kau kan tidak suka hal membosankan semacam itu."
"Ya, tapi kapan lagi aku bisa membuatmu senang. Kau bilang, selama ini yang bisa kulakukan hanya hal bodoh yang selalu membuatmu pusing."
"Tapi, Seifer, itu...maaf, aku tak bermaksud bicara begitu." Aku menunduk.
"Tak apa, Elle. Lagipula, kini aku tau kenapa Raijin begitu suka memancing. Saat dapatkan ikan, ia selalu kegirangan, walaupun ikan yang ia dapatkan sangat kecil. Ternyata ada kepuasan tersendiri saat mendapatkan ikan." ceritanya panjang lebar. Seulas senyum nampak di wajahnya.
"..." Aku memandanginya sambil tersenyum. Saat ia tersenyum, ia kelihatan begitu manis. Kurasa, wajahku mulai memerah.
"Kenapa tersenyum? Kagum dengan pengorbananku? Hahaha!" Ia tertawa dengan bangga sambil meletakkan papan dayung.
'Ah, momen itu selalu saja dihancurkan olehnya!' Gerutuku dalam hati.
"Kenapa diam, Elle?" Ia menatapku dengan jarak yang sangat dekat. Hidungnya hampir menyentuh hidungku. Kini mungkin wajahku semerah kepiting rebus.
"Tak apa, Seif. Ka..kali in...ni a...aku yang mendayung ya?" Kataku gugup. kuraih papan dayung di sebelahku. Tiba-tiba ia menarik tanganku.
"Biar aku saja yang dayung." Ucapnya sambil tersenyum.
"I..iya." Tanganku masih gemetar, padahal Seifer sudah melepaskan genggamannya. Aku terdiam beberapa saat sampai gugupku hilang.
"Hmm... Seifer."
"Ya, Elle?"
"Kau...mendayung perahu ini dari mana?"
"Dari tempat yang akan kita tuju nanti."
"Jaraknya jauh ya? Tidak lelah?"
"Hanya dengan memandang wajahmu, rasa lelahku hilang seketika." Kata Seifer. Senyumnya kembali menghiasi wajahnya.
"Gombal." kataku sambil menyembunyikan senyum di wajahku.
"Tidak, itu sungguhan. Lihat wajahku, tak terlihat gurat lelah sedikitpun kan? itu karenamu." Ia memegang kedua bahuku, lalu menatapku lekat-lekat. Kubalas menatapnya, tapi sesekali aku melirik ke arah lain, karena wajahku akan memerah jika aku menatap wajahnya dari dekat.
'Memang tidak terlihat lelah, tapi...' Wajahku memerah lagi.
"Ya, kurasa kau benar." Aku segera memalingkan wajahku.
"Maaf ya, tadi aku datang terlambat. Memancing ikan besar ternyata tidak mudah. Hehehe!"
"Tidak apa-apa, yang penting kau datang."
~~~
"Nah, sudah sampai. Ayo turun!" Ia turun dari perahu sambil menarik tanganku.
"Sudah selesai gunakan perahunya, nak?" Tiba-tiba seorang lelaki tua muncul dari balik truk yang terparkir di dekat dermaga.
"Ya, pak tua."
"Siapa wanita cantik ini? Kau menjemput wanita ini dengan perahu? Sungguh tidak berperasaan."
"Heei, pak tua! Ini keinginannya! Lagipula sangat sulit bila aku harus kesana dengan kereta apalagi berjalan kaki." kata Seifer kasar.
"Seifer! Jangan berkata kasar begitu, orang ini sudah berbaik hati meminjamkan perahu padamu."
"Yaa, baiklaaaah, terima kasih, paaaak~" Seifer berterima kasih pada lelaki tua itu dengan terpaksa.
"Nah, gitu dong!" ucapku padanya.
"Bersyukurlah, nak, kau punya kekasih yang begitu baik hati seperti nona ini." kata lelaki tua itu pada Seifer sambil melangkah pergi.
"Selalu saja bertindak kasar pada orang lain. Tak bisakah ramah sedikit?" kritikku.
"Nampaknya aku masih butuh belajar untuk beramah tamah. Maafkan aku ya, Elle?" kata Seifer.
"Baiklah, tapi mulai sekarang, belajarlah untuk lebih ramah." Ucapku sambil tersenyum.
"Ellooooone, kau baik sekali. Aku cinta padamu." Ia mencium pipiku lalu menarik tanganku, mengajakku berlari bersamanya.
"Jangan tiba-tiba lakukan hal seperti itu!" Protesku. Kini wajahku sudah benar-benar merah.
"Hahaha! Ayo, kita ke rumah teman lama!" Katanya sambil terus berlari.
~~~
Kami tiba di depan pintu rumah teman lama kami. Seifer menggedor pintu itu seperti lintah darat yang sedang menagih hutang. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuannya. Tak lama kemudian, terdengar suara pintu terbuka. Seorang pemuda dengan wajah bertato muncul dari rumah itu.
"Yo, Chicken Wuzz!" kata Seifer sambil mengangkat sebelah tangannya.
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu, Seifer!" Pemuda itu marah dan hampir memukul perut Seifer. Tapi Seifer segera menangkisnya dengan sebelah tangannya.
"Masih kekanak-kanakan seperti dulu. Hahaha!" ejek Seifer.
"Kau....!" Pemuda itu mulai mengangkat tinjunya lagi. Aku segera menampakkan diriku yang saat itu tertutupi tubuh Seifer yang tinggi.
"Selamat siang, Zell." kataku pada pemuda berjambul ayam itu.
"Waaah, kak Ellone! Kenapa bisa ada disini?" Zell menurunkan tinjunya lalu menghampiriku.
"Dia kesini bersamaku." ucap Seifer.
"Oh, kau kesini bersama Seifer ya....HAH?! Kakak, ayo cepat sembunyi, kalau Squall tau, akan terjadi perang dunia ketiga!" kata Zell panik.
"Berisiiiiik!" omel Seifer.
"Kenapa masih disini? Cepat pergi! Aku tak mau ada keributan di Balamb!" kata Zell hendak mengusir Seifer.
"Squall sudah merestui kami. Hanya tinggal tunggu waktu yang tepat untuk melamar Ellone." ucap Seifer enteng.
"Bagaimana bisa? Kalian kan rival abadi." kata Zell tak percaya.
"Entah apa yang membuatnya berubah pikiran, tapi dia mempercayakan Ellone padaku. Dia yang mengatakannya padaku tiga hari yang lalu."
"Yang benar? Jangan-jangan kau yang memaksanya mengatakan hal itu."
"Aku serius. Ia mengatakan itu dalam kondisi tubuh yang sangat sehat dan tak ada benturan di kepalanya yang membuat otaknya bergeser. Mungkin dia sudah mengakui kehebatan rivalnya ini. Hahaha!"
"Percaya diri sekali kau! Yasudahlah! Tapi jika tiba-tiba Squall datang lalu membuat kekacauan di Balamb karena melihatmu bersama Ellone, kau harus ganti rugi!"
"Yaaaa. Sekarang persilahkan kami masuk!"
~~~
"Ada perlu apa kalian kemari?" tanya Zell.
"Buatkan kami berdua sepasang cincin dari perak. Kau mahir membuat benda-benda seperti itu kan?" kata Seifer tanpa basa-basi.
"Tentu saja! Kalian datang ke orang yang tepat! Tinggal tentukan desainnya saja." jawab Zell semangat.
"Cincin untuk apa?" tanyaku.
"Tentu saja untuk pernikahan kita berdua, Ellone." jawab Seifer dengan senyum khasnya.
"Pe...pernikahan? Memangnya kau pernah melamarku?" Aku masih bingung dengan pernyataan Seifer yang mengejutkan.
"Belum, tapi akan kulakukan." ucapnya mantap sambil menatapku. Aku balas tatapannya dengan senyuman.
"SEIFEEEEER, DESAINNYAAAAA!" Teriakan Zell membuatku kaget dan langsung terdiam.
"Hoi, jangan ganggu kami!" Omel Seifer.
"Kau kesini mau numpang pacaran atau mau minta dibuatkan cincin sih?!" Zell menutup kotak peralatannya dengan kencang.
"Maafkan kami, Zell." Ucapku. Lalu kulihat Zell membuka kembali kotak peralatannya.
"Desainnya sudah kubuat sejak lama." Seifer mengeluarkan secarik kertas dari kantung celananya lalu menyodorkannya pada Zell.
"Ini...buatanmu?" Zell terlihat agak kaget. Aku yang berada di depan Zell, mengintip kertas desain itu dari arahku, tapi tak kelihatan karena kertasnya cukup tebal.
"Ya." jawabnya singkat.
"Kau ternyata punya bakat dalam mendesain cincin juga ya... bagaimana kalau kita bekerja sama? Nanti kita akan buat toko perhiasan yang besar, dan..."
"Aku tak tertarik. Kapan cincin itu selesai dibuat?" potong Seifer.
"Mungkin satu minggu. Sangat rumit membuat cincin dengan ukiran yang sangat detail seperti ini. Biasanya aku hanya butuh dua hari untuk membuat cincin, tapi untuk yang satu ini...butuh waktu lama."
"Oke. Pembayaran ditunda sampai aku dapat gaji dari Garden ya?"
"Masalah pembayaran, kau bisa membayarnya kapanpun. Kalau cincinnya sudah jadi, mau kuantar ke dorm mu atau mau kau ambil sendiri disini?"
"Aku yang akan mengambilnya. Satu minggu lagi."
"Baiklah! Aku akan mulai mengerjakannya! Terima kasih atas ordernya, Seifer, silahkan datang lagi!"
"Kau mengusir kami?" Seifer menarik kerah baju Zell.
"Ti...tidak! Lisanku sudah terbiasa mengatakan itu, mungkin karena aku kerja sambilan juga di toko mie Ramen dekat rumahku." Jelas Zell.
"Huh! Yasudahlah, kami pergi, Chicken Wuzz!" Ledek Seifer sambil melangkah menuruni tangga kamar Zell.
"Kami pulang dulu ya, Zell. Sampai Jumpa." Aku  melambaikan tangan pada Zell sedang menunduk.
"GRRR, SEIFEEEER!" Teriak Zell dari dalam kamar. Aku meringis mendengar teriakannya.
"Hahahaha!" Seifer tertawa terbahak-bahak, sepertinya merasa puas karena telah berhasil membuat Zell terbakar. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Bibi, kami pamit pulang dulu ya!" Ucapku pada Ma Dincht sambil tersenyum.
"Ya, nak, hati-hati ya!" Kata Ma Dincht.
~~~
Aku dan Seifer meninggalkan rumah Zell. Seifer mengajakku ke restoran Sushi karena dia sudah lapar. Kami keasyikan mengobrol disana sampai tidak sadar kalau sebentar lagi matahari akan terbenam. Sebelum pulang, Seifer mengajakku ke tepi dermaga.
"Waaaaah, indah sekali! Lihat itu, Seif!" Kataku sambil menarik-narik lengan baju Seifer, seperti anak kecil yang mau menunjukkan sesuatu pada orangtuanya.
"Kau suka pemandangannya ya?" Kata Seifer.
"Tentu saja, Seifer. Terima kasih sudah mengajakku kesini."
"Iya. Ehm...Ellone..." Seifer kini menghadap kearahku.
"Ya, Seifer?" Aku menatap wajahnya yang terlihat agak ragu, wajah yang tak pernah ia tunjukkan sebelumnya.
"Aku...apa aku bisa melindungimu? Aku ingin bisa selalu bersamamu. Aku ingin selalu jadi orang pertama yang menghapus air matamu, menghapus segala kesedihanmu lalu menggantikannya dengan segores senyum di wajahmu. Aku ingin jadi orang yang paling bisa kau andalkan, orang yang paling bisa menjaga perasaanmu, orang yang takkan pernah membuatmu menangis karena tingkahku. Tiap kali aku melihat wajah kesalmu melalui sudut mataku, saat itu pula aku sangat membenci diriku sendiri. Kenapa orang yang begitu mencintaimu ini begitu tega membuatmu kesal, marah. Aku terus mencoba untuk jadi orang yang baik, yang pantas jadi pendampingmu, tapi usahaku selalu gagal." Aku terus menatap wajah Seifer. Matanya berkaca-kaca. Bola matanya mengarah ke laut yang ada disampingku, seakan takut melihat ekspresi wajahku saat itu.
"Aku bahagia bersamamu. Aku tak peduli, sekalipun kau selalu bertingkah semaumu. Aku salut dengan usahamu. Aku yakin, tak ada yang sia-sia asal mau terus berusaha. Maaf ya, aku selalu kesal padamu, tak pernah bisa melihat sisi baikmu."
"Tak apa, Ellone. Aku bahagia, kau masih ada di sisiku sampai saat ini. Berjanjilah kau akan selalu ada disisiku sampai kapanpun." Ucap Seifer lirih.
"Ya, Seifer, aku janji." Ia memelukku perlahan. Aku balas memeluknya, air mata bahagia mengalir deras dari mataku. Tapi kebahagiaan rasanya akan segera sirna. Seseorang menarik tanganku, berusaha merebutku dari pelukan Seifer.
Note: Jangan cari Chapter 1 nya ya. Chapter 1 nya hilang. Hanya ada dari chapter 2 sampai chapter akhir. Saya post disini supaya ingat aja kalau dulu pernah bikin cerbung :D

Introducing - Eternal Love

Ah, gak kerasa udah empat bulan gak update blog. Kali ini mau coba update dengan sesuatu yang gak biasa.

Pagi ini saya ngubek-ngubek file di komputer, berharap ada game bagus yang (mungkin) nyelip. Pas lagi asal-asalan mencet, terbukalah folder browsingan tentang Hina Matsuri (Festival Boneka) di Jepang.

Saya kaget lihat ada beberapa file rich-text format di sana. Saat saya buka salah satunya....JENG JENG...muncullah cerbung (cerita berkabung...eeh...bersambung) yang pernah saya buat kurang lebih tiga tahun yang lalu.

Bingung juga, rasa-rasanya dulu sudah dihapus, kok masih ada. Akhirnya kubaca semua sampai habis. Ah, this bring back so much memories... eh, nggak deng...biasa aja. Sebagian besar memori tentangnya sudah tergantikan oleh pak Suami.

Jadi cerbung ini sebenarnya saya buat pada masa jahiliyah dulu sebelum ketemu sama pak Suami. Zaman masih naksir-naksiran sama teman FB. Zaman nyari jodoh di FB #eh

The boy confessed to me that time, at the twenty ninth of February. Entah kenapa mesti di tanggal yang hanya muncul empat tahun sekali, yang dengan kata lain, sangat sulit untuk melupakannya. Awalnya karena kami menyukai game yang sama, lalu seiring berjalannya waktu, dia malah naksir karo aku. Well, me too, after he confessed.

Alhamdulillah sekarang sudah bisa lupa tentangnya. Tentang masa lalu. Tentang masa dimana saya masih cenderung ikut hawa nafsu. Saya bersyukur, Allah masih berkenan agar saya menjadi pribadi yang lebih baik. Allah datangkan seorang lelaki baik yang sekarang jadi suami saya. Proses menuju pelaminan sejak pertama bertemu pun hanya berjarak dua bulan. Tanpa pacaran, tanpa galau-galauan, kami menikah.

Seifer, I hope you will find the best one, too. Ganbatte ne!

Sekarang kenalan dulu dengan karakter-karakter dalam cerbung ini ya!

Disclaimer: Cerbung ini adalah fanfic (fanfiction) dari game Final Fantasy VIII buatan Squaresoft (kini telah bergabung dengan Enix menjadi Square Enix). Semua karakter (kecuali Duke) dalam fanfic ini adalah milik Square.

Karakter-karakter


Seifer Almasy

Luka di wajahnya adalah goresan pedang musuh bebuyutannya, Squall. Lelaki angkuh ini pernah tercuci otaknya oleh sorceress dari masa depan, Ultimecia, sehingga ia menjadi salah satu dalang kekacauan di dunia. Dia tersadar setelah Squall dan kawan-kawannya berhasil mengalahkan Ultimecia.

Ellone Loire

Wanita ini memiliki kekuatan mengendalikan waktu. Sangat ingin mengubah masa lalunya yang kelam namun kekuatannya hanya bisa memutar ulang kejadian di masa lalu orang-orang yang dia kenal. Kakak angkat Squall.

Squall Leonhart

Pria ini memiliki luka yang sama dengan Seifer. Masa lalunya yang tidak menyenangkan membuatnya menarik diri dari orang lain. Rinoa lah yang berhasil mengubahnya menjadi pria yang lebih hangat. Anak kandung Laguna dengan Raine.

Zell Dincht

Tato di wajahnya membuat dia terlihat sangar meskipun sebenarnya hatinya baik. Hanya saja dia sangat tempramen. Lelaki yang jago tinju ini ternyata ahli mengukir cincin. Ia pernah membuatkan replika cincin milik Squall untuk Rinoa.

Rinoa Heartilly

Gadis periang ini adalah salah satu anggota pemberontak Galbadia saat Galbadia menjajah kota Timber, sedangkan ayahnya adalah petinggi di Galbadia. Awalnya sangat benci pada Squall yang terlalu cuek. Lama kelamaan ia mengetahui alasan kenapa Squall seperti itu, dan memutuskan untuk membantu Squall untuk menjadi lebih baik.

Laguna Loire

Dia adalah presiden Esthar. Di masa mudanya, lelaki ini suka bertingkah semaunya sendiri, namun ia sangat peduli pada orang yang kesusahan. Kakinya selalu kram ketika berhadapan dengan wanita cantik. Machine gun wielder. Ayah dari Squall. Mantan Galbadian Soldier ini pernah menjadi traveling journalist untuk majalah Timber Maniacs.

Raine Loire

Ibu kandung Squall ini dulunya adalah gadis desa. Ia menemukan Laguna yang terdampar di tepi laut, menolongnya serta merawat luka-lukanya. Kemudian cinta bersemi diantara mereka. Lalu mereka menikah. Namun kehidupan mereka yang sangat sempurna harus kandas di tengah jalan. Laguna pergi mencari Ellone yang disandera oleh antek-antek sorceress Adel saat perang sorceress. Raine melahirkan Squall kemudian meninggal sebelum Laguna sempat pulang.

Duke Deling

[OC] anak dari presiden Deling, Vinzer Deling. Dia adalah pewaris tunggal kekayaan ayahnya. Ibunya meninggal saat ia masih kanak-kanak. Dia sangat gila harta dan kekuasaan. Banyak wanita yang mengelilinginya, namun tak ada yang menarik minatnya. Ia jatuh cinta pada Ellone sejak pertama bertemu dengannya. Cintanya berubah menjadi obsesi saat mengetahui bahwa Ellone akan menikah dengan kekasihnya, Seifer.

Senin, 24 Agustus 2015

Kucing


Ingin mengelusnya.. sayang.. disentuh pun tak mau :(


Rabu, 08 Juli 2015

お金

Kadang suka mikir, punya uang sendiri itu enak kali ya.. Kepengen beli ini itu gak perlu minta suami.. Aku bisa beli apapun yg aku inginkan.. Buku, game, makanan.. Atau beli sesuatu untuk dihadiahkan.. Rasanya nikmat banget bisa mewujudkan itu semua.. Tapi setelah dipikir lagi, apa kondisi itu baik untukku? Pegang uang sendiri, semua yang menggoda mata dibeli.. Dari yang dibutuhkan banget sampai yang bener-bener gak butuh..

Ini gak baik -_-

Minggu, 28 Juni 2015

Waktunya Momong Anak!

Setiap pagi seperti biasanya saya belanja sayur di tukang sayur langganan saya, persiapan untuk sahur besok. Kebetulan pagi ini suami saya shift pagi. Saya nebeng motornya untuk ke tukang sayur karena tukang sayurnya berada sekitar 100 meter dari kontakan mungil saya.

Pagi ini saya menangkap pemandangan berbeda. Ketika saya turun dari motor, saya melihat seseorang laki-laki sedang mendorong kereta bayi. Dia berjalan ke arah kami. Semakin dekat, saya jadi mengenali siapa yang sedang mendorong kereta bayi itu. Dia adalah tetangga saya. Seorang ayah yang sedang menikmati hari liburnya bersama bayinya.

Saat sedang memilih sayur, saya melihat seorang laki-laki yang sedang memomong anak batitanya sembari menunggu istrinya belanja sayur. Yang seperti ini jarang terlihat di hari-hari kerja, dimana para ayah sibuk mencari nafkah.

Selesai belanja, saya pulang. Setibanya saya di gerbang menuju deretan kontrakan, saya berpapasan dengan sebuah motor. Di atasnya ada seorang ayah yang hendak mengajak anak-anaknya pergi. Ayah pertama yang saya lihat juga sudah tiba di rumahnya.


Sumber: sidomi.com

Kehadiran ayah di tengah-tengah keluarganya sangat dinantikan. Hari libur jadi hari yang paling ditunggu oleh anak-anak. Banyak kegiatan menyenangkan yang bisa dilakukan. Bermain kuda-kudaan, menyusun lego bersama, main ular tangga, atau sekadar menikmati hembusan angin di taman dekat rumah sudah sangat membahagiakan bagi anak. Mereka tentu sudah biasa memainkan mainan mereka, tapi dengan hadirnya sosok ayah yang menemani mereka bermain, memainkan mainan yang biasa pun terasa sangat menyenangkan.

Sungguh indah melihat anak-anak yang dekat dengan ayah mereka. Tak ada tembok pembatas antara mereka. Kesibukan sang ayah tak mengurangi kehangatan hubungan ayah dan anak. Ayah ikut merawat dan mendidik anak. Memberi contoh yang baik bagi anaknya. Menjaga interaksi dengan istri dan anak-anak. Sesekali mengajak keluarganya jalan-jalan untuk melepas kepenatan. Keharmonisan dalam keluarga bisa terjaga.

Nah, wahai para ayah, kegiatan apa saja yang sudah Anda lakukan bersama anak hari ini?


Kamis, 18 Juni 2015

Seblak Basah with Bihun Jagung

Sumber: Dokpri.

Sejak pertama kali nyobain Seblak Basah hasil ngoprek di dapur, saya langsung ketagihan. Pedas yang menggigit, rasa kencur yang kuat, kerupuk yang kenyal akibat proses memasak benar-benar membuat saya tergila-gila dengan penganan yang satu ini. Apalagi kalau dimakan sesaat setelah matang, panas bercampur pedas sukses membuat keringat bercucuran. Duh, sayangnya perut saya mulai terasa sensitif sejak memakan Seblak Basah dengan 8 cabai rawit merah. Sekarang saya cuma berani membuat seblak dengan 4 cabai saja.


Menurut teman-teman saya, seblak absah ini paling cocok dibuat dan dinikmati beramai-ramai. Kebayang deh serunya makan seblak langsung dari wajannya. Bisa ngerumpi sambil kepedesan. Hihi..
Ya asal jangan ngomongin orang aja. Itu namanya makan bangkai saudara sendiri dengan rasa seblak *lalu horor


Kalau lagi bulan puasa gini, saya gak berani menyantap seblak. Rasanya kasihan sekali dengan perut yang kosong selama kurang lebih tiga belas jam ini jika harus diisi makanan yang terlalu pedas. Kata suami saya,"Bikin seblaknya gak usah pake cabe aja,"
Saya langsung menggeleng. Seblak tanpa cabe? Bukan seblak dong namanya.


Bikin seblak itu gampang banget. Bumbunya cukup bawang merah, bawang putih, cabe rawit, dan kencur. Jangan lupa garam dan gula. Bisa juga diirisi sosis atau diorak-ariki(?) telur. Tambah sawi hijau lebih mantap.


Saya pernah iseng merendam bihun jagung bersama kerupuk yang akan saya buat seblak. Beberapa jam kemudian, bihunnya terburai seperti ketika direbus dengan air mendidih, lalu memasak kedua bahan tersebut menjadi seblak. Saya cicipi seblaknya, ternyata enak sekali kombinasi kerupuk yang kenyal dengan bihun yang lembut. So hot and spicy!


For me and hubby ^^ Sumber: Dokpri.

Bagaimana dengan kamu? Seperti apa seblak favoritmu? Share yuk!


Sabtu, 13 Juni 2015

Photo of The Day: Sawi Hijau

Sumber: Dokpri.

Sekarang sawi hijau lagi panjang-panjang daunnya. Terlihat segar ya, setelah dicuci :D


Jumat, 05 Juni 2015

Photo of The Day: Kucing Tidur

Sumber: Dokpri.

Lelah sehabis mengejar betina :D


Kamis, 14 Mei 2015

My Reflection

Maybe I will keep the doramas I like in mind, not wrote about it in my blog.. I don't know when will I died..

That's it.


COPYRIGHT © 2017 | THEME BY RUMAH ES